Hari Biasa (H)
Hos. 14: 2-10; Mzm. 51:3-4, 8-9, 12-13, 14, 17; Mat. 10:16-23.
Thomas Hobbes, filsuf Modern dari Inggris (1588-1679), mengungkapkan salah satu teorinya yang terkenal yakni Homo Homini Lupus yang artinya “Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”.
Ia mengangkat kembali apa yang dikatakan Plautus (195 sM): “Lupus est homo homini” yang artinya “Manusia adalah serigalanya manusia”. Hobbes mengungkapkan hal ini karena melihat bahwa manusia punya kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan punya ketakutan ketika merasa terancam.
Oleh karena itu, manusia akan menyerang sesamanya bagaikan serigala menyerang sesamanya. Hal ini begitu nampak di zaman Hobbes hidup dan situasi yang sama terjadi pula di zaman Tuhan Yesus. Di zaman Tuhan Yesus, para penguasa, majelis agama, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi merasa terancam dengan kehadiran Tuhan Yesus dan para murid-Nya.
Sadar akan situasi itu, Tuhan Yesus memberikan suatu analogi dalam Injil hari ini. “Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala.” Para murid diutus ke tengah serigala, sehingga diharapkan untuk cerdik dalam melihat situasi, seraya tulus dalam pelayanannya.
Para murid akan dibawa ke muka pemimpin agama dan para penguasa untuk disesah. Mereka akan dibenci, dikejar-kejar dan dianiaya. Dengan begitu Yesus menyuruh mereka untuk cerdik melihat situasi.
Kecerdikan itupun perlu diiringi ketulusan. Cerdik memanfaatkan situasi, bukan cerdik memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingan pribadi. Dalam kecerdikan, Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk tulus. Ketulusan akan membuat kecerdikan kita terarah pada kebaikan.
Situasi yang sama berlaku pula bagi kita murid-murid Tuhan di zaman modern ini. Kita diutus Tuhan ke berbagai situasi yang kadang kala mengancam keamanan kita. Dunia Indonesia yang majemuk membawa kekayaan bagi bangsa Indonesia sendiri.
Tetapi dalam kemajemukan itu, tak dapat dipungkiri bahwa dalam realitas sehari-hari ada konflik yang terjadi. Ada pertentangan-pertentangan yang dilandasi radikalisme. Hal ini dapat mengancam keamanan kita. Situasi ini menantang kita para murid Tuhan. Apakah kita berani untuk mewartakan Kerajaan Allah di berbagai situasi?
Bila berada di situasi yang bersahabat dengan kita, tentu akan gampang bagi kita untuk mewartakan. Tetapi bagaimana bila kita berada di situasi baru, dengan orang-orang yang belum kita kenal dan mungkin tidak senang dengan kehadiran kita?
Dalam situasi ini, kita dipanggil untuk menjadi pewarta Injil yang berani, cerdik dan tulus. Tetapi harus diingat, hindari terjadinya cekcok apalagi kekerasan. Bila dalam pewartaan kekerasan menghampiri, berusahalah untuk menghindarinya. Oleh karena itu, beranilah mewartakan Injil dalam kecerdikan dan ketulusan hati.
(Fr. Theo Palit)
“Lihat, aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah seigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dn tulus seperti merpati” (Mat. 10:16).
Ya Tuhan, tuntunlah saya supaya selalu cerdik dan tulus. Amin.











