“Bait Allah-Tempat Kudus”: Renungan, Jumat 19 November 2021

0
1495

Hari Biasa (H).

BcE 1Mak. 4:36-37,52-59; MT 1Taw. 29:10,11abc,11d-2a,12bcd; Luk. 19:45-48.

Setiap orang pernah mendapat nasehat mengenai sopan santun dan sikap yang baik ketika masuk ke dalam Gereja. Kita tentu mendapat nasehat tersebut sejak masa kanak-kanak. Orang tua kita senantiasa mengajarkan kita supaya berlaku sopan dan baik saat masuk ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Hal ini bermaksud supaya kita menghargai orang lain yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi, tetapi lebih dari pada itu supaya menghormati Yesus Kristus yang bertakhta dalam sakramen Mahakudus. Akan tetapi seringkali, ada rupa-rupa peristiwa yang justru sangat mengganggu keheningan dan kekhusyukan orang saat berdoa.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan kita akan pentingnya menghormati dan menghargai Bait Allah. Hal ini nampak jelas melalui tindakan Yesus saat mengusir orang-orang yang berjualan di sekitar Bait Allah. Yesus sangat marah ketika melihat Bait Allah dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan. Tindakan Yesus mengusir orang-orang di sekitar bait Allah bukan hanya menyangkut bait Allah sebagai pusat ibadah orang Yahudi dan tempat Ia mengajarkan firman Allah. Tetapi juga di situ ada pemerasan, tipu daya dan ada persekongkolan anatara para pedagang dengan para imam untuk menguntungkan para pedagang tersebut.

Hal-hal tersebut yang kemudian membuat Yesus berkata: “Rumah-Ku adalah rumah Doa, tetapi kalian menjadikannya sarang penyamun”. Oleh sebab itu, tindakan yang dilakukan oleh Yesus bermaksud supaya menjadikan keberadaan Bait Allah kembali seperti sedia kala.

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, kita pernah melihat orang-orang bahkan kita sendiri melakukan tindakan yang meresahkan dan membuat orang lain tidak nyaman ketika mengikuti perayaan ekaristi. Tanpa kita sadari, tindakan tersebut telah melenceng dari apa yang diajarkan Yesus melalui bacaan Injil hari ini. Di mana kita tidak menghormati dan menghargai bait Allah.

Bacaan dari Kitab Makabe mengingatkan kita supaya dapat keluar dari kebiasaan yang tidak baik. Hal itu jelas melalui kata “Mentahirkan dan mentahbiskan kembali”. Kata mentahirkan dan mentahbiskan kembali berarti bertobat atau memperbaharui diri. Kita telah melakukan kesalahan yang melenceng dari ajaran Yesus dengan mencemari tubuh kita dengan perbuatan dosa, entah dengan kata-kata atau tindakan. Kita dapat kembali ke jalan yang benar dengan menyesali, mengakui dan bertobat atas kesalahan yang telah kita buat itu.

(Longginus Rumangun)

 

“Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kalian menjadikannya sarang penyamun” (Luk. 19:46).

 

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, semoga Engkau senantiasa menyadarkan kami umat-Mu untuk senantiasa menghormati bait-Mu yang kudus dan taat pada perintah dan titah-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini