“Pertobatan”: Renungan, 25 Maret 2018

0
2933

Menjelang hari raya Paskah, ketika orang banyak yang datang untuk merayakan pesta mendengar bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem dan pergi menyongsong Dia sambil berseru, “Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yesus menemukan seekor keledai muda, lalu naik ke atasnya, seperti ada tertulis: Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah   Rajamu datang, duduk di atas seekor keledai. Mula-mula para murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan mereka telah melakukannya juga untuk Dia.

Melalui kisah sengsara, kiranya bisa membangkitlah rasa dukacita yang mendalam pada diri kita. Sebab karena dosa-dosa kitalah yang menyebabkan penderitaan Kristus. Memang, penting bagi kita untuk merasa pedih dan sedih atas penderitaan yang dialami Yesus. Ia dikhianati oleh Yudas Iskariot. Petrus menyangkal Dia dan semua murid yang lain lari meninggalkan-Nya. Ia didakwa dengan kesaksian palsu dan akhirnya dihukum mati setelah sebelumnya disiksa dengan diludahi, dipukul, dibelenggu, disesah, dimahkotai duri,  ditelanjangi, dan diolok-olok. Namun, yang tidak kalah penting adalah  kita harus merasa pedih dan sedih atas dosa-dosa kita yang menyebabkan  Yesus mengalami semua penderitaan itu.

Jika kisah sengsara yang kita dengarkan hari ini membawa kita kepada pertobatan, maka pertobatan kita bisa bersifat eklesial. Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga dibangun, demikian juga dengan Gereja lokal di mana kita menjadi anggotanya. Karena itu, mari kita berusaha melakukan pertobatan dan komitmen baru: menyenangkan Tuhan dengan doa-doa kita bagi kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa serta perkembangan Gereja. Sebagai silih atas semua dosa yang menyebabkan penderitaan Kristus, marilah kita dengan setia mengikuti Dia dalam sengsara-Nya. Dalam kisah   sengsara tadi dinyatakan bahwa “semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri”. Semoga kita tidak ikut-ikutan lari seperti para murid. Seraya menyesali segala dosa, selama Pekan Suci ini, kita diajak merenungkan jati diri kemuridan kita.

(P. Antonius Bayu Nuyartanto, Pr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini