“Kuasa Allah”: Renungan, Senin 4 Februari 2019

0
2190

Hari Biasa (H).

Ibr.  11: 32-40; Mzm. 31:20,21,22,23,24; Mrk. 5:1-20.

Injil hari ini mengisahkan tiga hal. Pertama, penyembahan dan penyembuhan. Orang yang kerasukan setan datang menyembah Allah. Sembah sujud menunjuk pada kualitas iman yang diarahkan hanya kepada Allah saja. Kisah dalam Injil memperlihatkan kekaguman orang tersebut atas Allah. Setan yang ada dalam diri orang itu tidak sanggup menetap apalagi berhadapan dengan Yesus. Aksi penyembahan kepada Yesus dari orang yang kerasukan bukanlah sebuah fenomena yang biasa.

Hal ini seharusnya menjadi peristiwa yang patut direfleksikan. Iblis itu tidak sendirian. Mereka merupakan satu kelompok. Yesus hanya hadir seorang saja. Tetapi iblis tidak bisa melawan Yesus justru sebaliknya menyembah Dia. Selain menyembah Yesus, iblis memohon agar tidak dibinasakan. Menarik bahwa setan dalam diri orang itu meminta kepada Yesus untuk menyuruh mereka masuk kepada kawanan babi. Hal ini menandakan kekuasaan Yesus yang luar biasa.

Kedua, pengusiran. Yesus didesak untuk keluar dari daerah mereka. Kehadiran Yesus ternyata tidak disenangi oleh banyak orang. Walaupun Yesus telah menyembuhkan orang yang selama ini mengusik kehidupan mereka, karena kondisi kejiwaannya yang tidak baik. Mereka mengusir Yesus karena kematian ribuan babi itu. Mereka tidak dapat membayangkan kekuatan Yesus. Jelas lebih mudah bagi mereka untuk menangani orang yang kerasukan setan daripada menangani seorang yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan. Mereka juga merupakan orang-orang kafir. Jadi mereka punya alasan yang kuat untuk menyuruh Yeus pergi dari daerah mereka.

Ketiga, pewartaan. Orang yang kerasukan setan itu, begitu lama diasingkan dan dianiaya oleh masyarakat. Ia bertanya kepada Yesus apakah ia dapat mengikuti-Nya. Namun ia tidak diijinkan oleh Yesus. Tetapi justru Yesus memberi satu mandat untuk mewartakan peristiwa iman itu kepada banyak orang, dan bahwa Allah telah berkuasa atas hidupnya sebab ia sendiri telah mengalami sendiri secara nyata kuasa Allah tersebut.

Hari ini kita disadarkan akan adanya suatu siklus iman yang begitu dramatis. Mula-mula orang berusaha menyembah Tuhan. Tetapi kedosaan sering membuat ia lupa akan kuasa Allah. Keegoisan diri menjadikannya masuk dalam jerat iblis. Nanti ketika merasa semakin tersiksa baru mencari pertolongan Tuhan. Kendati demikian, Allah itu berbelas kasih dan murah hati. Buktinya orang mengalami kesembuhan bahkan diberi tugas untuk mewartakan kuasa Allah. Sudahkah kita mewartakan kasih Allah bagi sesama?

(Fr. Fiki Panggola)

“Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya”. (Mrk. 5:6).

Marilah Berdoa;

Ya Tuhan, tutunlah aku agar tidak berpaling dari-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini