“SIAPAKAH SAUDARAKU?”: Renungan, Selasa 23 Januari 2024

0
1227

Hari Biasa (H)

2Sam. 6:12b-15,17-19; Mzm. 24:7,8,9,10; Mrk. 3:31-35

Keluarga adalah tempat pertama yang menjadi pelabuhan bagi kita semua ketika kita lahir dan hadir ke dunia ini. Kita semua dititipkan dalam sebuah keluarga untuk dirawat dan dibesarkan. Secara langsung juga dalam kehidupan ini kita sangat membutuhkan yang namanya keluarga. Entah itu orangtua, kakak beradik dan lain sebagainya. Kita disatukan dalam ikatan darah dan ikatan lain yang menyatukan sehingga kita membentuk satu keluarga. Berbicara mengenai keluarga, pada hari ini kita telah mendengarkan bacaan Injil yang berbicara mengenai Yesus dan sanak saudara-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus juga memiliki keluarga seperti kita. Yesus memiliki ibu yang mengandung-Nya yakni ibu Maria, Dia juga memiliki seorang ayah yakni Bapak Yosep dan sanak saudara-Nya yang lain. Dalam Injil pada hari ini dengan jelas dikatakan bahwa ketika Yesus sedang duduk bersama dengan orang banyak, datanglah saudara-saudaraNya menemui Dia. Maka kata orang banyak itu kepada Yesus: “Lihat, ibu  dan saudara-saudaraMu ada di luar dan berusaha untuk menemui Engkau.” Namun Yesus menjawab: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Perkataan Yesus ini pastinya membuat kita yang mendengar merasa bingung dengan Nya. Mengapa demikian? Ya, karena sebagai manusia biasa kita pasti berpikir dan mengira bahwa Yesus sangatlah jahat karena Ia tidak mau untuk bertemu dan mengakui ibu dan saudara-saudara-Nya. Kita merasa bahwa Yesus tidak peduli dengan kedatangan ibu dan saudara-saudara-Nya, Ia lebih mementingkan orang lain daripada keluargaNya sendiri.

Namun, perlu kita ketahui bahwa yang Yesus lakukan itu sudah benar dan tepat. Perkataan Yesus tidak hanya sampai di situ. Namun, Ia melihat sekelilingNya dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Perkataan Yesus ini dengan jelas menjawab semua keraguan kita tentang diri-Nya. Yesus memberi satu pemahaman baru kepada kita bahwa bagiNya yang layak untuk disebut sebagai keluarga adalah mereka yang dengan setia dan penuh tanggung jawab melaksanakan kehendak Allah. Dengan melaksanakan kehendak Allah sebagaimana yang Allah kehendaki maka pantaslah kita disebut sebagai anak, saudara dan sahabat Yesus.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang mau dan berani untuk melaksanakan apa yang Allah kehendaki agar kita layak dan pantas disebut sebagai saudara-saudaraNya. Kita diajak untuk mencintai Allah dalam diri PuteraNya Yesus Kristus. Dengan taat dan setia melakukan dan melaksanakan apa yang Allah kehendaki kita semua pantas untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan yang berasal dari Yesus Kristus Putera Allah.

(Fr. Edwar Adelbert Mere)

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk. 3:35)

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami saudara yang baik yang mau melaksanakan semua kehendakMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini