“Seorang yang Kaya”: Renungan Selasa, 21 Agustus 2018

0
2865

PW S. Pius X, Paus (P)

Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd28,30,35cd-36ab; Mat. 19:23-30.

Uang dapat menghantar manusia kepada malapetaka. Mengapa? Karena segala sesuatu yang mencakup kehidupan manusia umumnya digerakkan bahkan tak dapat dipungkiri dikuasai oleh uang.

Jika kita membaca dan merenungkan bacaan pertama, pasti kita menemukan bagaimana Raja Tirus mengalami nasib yang sama dengan pernyataan di atas. Raja Tirus pantas mendapat tuduhan yang datang dari Allah sendiri akibat kesombongan dan tinggi hatinya. Selain itu juga, Allah menyindir Raja Tirus karena menganggap bahwa hikmat yang dimilikinya melebihi Daniel.

Dikatakan bahwa hikmat yang dimilikinya membuat dia pandai dalam hal berdagang sehingga mempunyai kekayaan yang berlimpah. Hal inilah yang akhirnya membuat dia menjadi orang yang tinggi hati dan sombong. Kesombongan yakni ingin serupa dengan Allah membuat ia jatuh dan mengalami suatu malapetaka yang hebat, yakni mati di tengah lautan yang amat luas dan mengerikan.

Dalam nada yang sama, dikatakan pula dalam Bacaan Injil bahwa, “Sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk dalam Kerajaan Sorga”. Hal yang dimaksudkan Yesus di sini adalah kerendahan hati. Tak jarang ditemui bahwa orang kaya yang punya segalanya, lebih mementingkan kehidupan pribadinya daripada melihat orang lain atau lebih tertutup dengan dirinya. Artinya, mereka kurang memberi waktu pada relasi antar sesama, bahkan relasi dengan Tuhan.

Maka, tepatlah Sabda Tuhan yang mengatakan, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Allah”. Perlulah diingat bahwa harta dan kekayaan di dunia ini mudah untuk didapat, tetapi mencari harta surgawi membutuhkan kesetiaan, kerja keras, bahkan pengorbanan yang besar. Kita boleh kaya, tetapi jangan sampai kita diperbudak oleh harta kekayaan. Kita boleh menjadi amat kaya, tapi jangan sampai kekayaan itu menjadi penghalang bagi pertumbuhan iman kita kepada Kristus dan kepedulian kepada sesama.

Kita patut belajar dari kisah hidup St. Pius X yang pestanya kita rayakan hari ini. Ia dengan tegas memperjuangkan masa depan Gereja. Dia memiliki kerendahan hati dan sangat berjasa bagi Gereja. St. Pius X adalah sosok orang kudus, sederhana, berbelas kasih, penuh kerendahan hati, dan cinta akan pelayanan kepada umat-Nya. Semoga kita pun menjadi orang yang rendah hati serta peduli kepada sesama kita yang membutuhkan pertolongan dari kita. Kalau kita rendah hati dan peduli kepada sesama, kita juga dapat menjadi kaya dan berselamat.

(Fr. Andarias Lalin)

“Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mat. 19:25)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah aku hati yang berbelas kasih. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini