“MENDENGARKAN, APA ITU?”: Renungan, Senin 25 September 2023

0
1264

Hari Biasa (H)

Ezr. 1:1-6; Mzm. 126:1-2ab, 2cd- 3, 4-5, 6; Luk. 8:16-18.

Sewaktu saya berada di jenjang SMA, saya sering mendengar kata-kata yang diucapkan oleh seorang guru di kelas. “Setelah mendengarkan materi hari ini, hendaknya dipahami dan disimpan di dalam otak. Janganlah materi itu hanya masuk telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Yang akan rugi nanti bukanlah ibu, melainkan kalian”, demikian kata-kata yang hampir setiap kali diingatkan kepada kami sekelas.

Bacaan-bacaan hari ini memberikan inspirasi kepada kita untuk belajar mendengarkan. Bacaan pertama menceritakan mengenai Raja Koresy yang memperkenankan bangsa Israel untuk pulang ke negeri asalnya. Kitab Ester memberikan pengandaian bahwa setelah mendengarkan Allah yang telah memberikan segala berkat kepadanya, Raja Koresy memulangkan bangsa Israel tanpa sungkan. Ia menyadari bahwa sabda yang ia terima adalah sabda yang akan mendatangkan berkat bagi dirinya. Pengarang Lukas pun bercerita tentang topik yang seragam. Diceritakan bahwa Yesus memberikan pengajaran kepada orang banyak dengan perumpamaan tentang pelita. Layaknya sebuah penerang, demikian juga pelita yang harus ditempatkan di bagian puncak agar pelita itu bisa menerangi seluruh bagian tempat yang ada di sekitarnya. Selanjutnya Yesus menggaris bawahi cara seseorang untuk mendengarkan.

Mendengarkan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Keinginan orang untuk mendengarkan sudah semakin sulit untuk ditemukan. Banyak orang lebih tertarik untuk didengarkan daripada mendengarkan. Ahli-ahli tidak menerima masukkan atau pun perkataan sesamanya, orang-orang lebih berkenan agar gagasan-gagasannya bisa diterima oleh masyarakat. Alhasil ketika ia menerima suatu pengajaran atau pun nasihat dari sesamanya, tidak satu pun yang akan diterima selain dibuang jauh-jauh dari hadapannya.

Hari ini Tuhan mengingatkan kita untuk belajar mendengarkan. Kita hidup bersama dengan orang-orang sekitar. Tidak banyak hal yang telah kita ketahui. Bisa saja ada orang lain yang lebih hebat dari kita dalam bidang tertentu. Ketika kita mempunyai masalah dalam aspek tertentu, kita pasti membutuhkan orang yang ahli di bidangnya. Salah satu cara untuk menerima nasihat sesama ialah dengan mendengarkannya. Layaknya pelita yang tidak akan berdaya guna, jika tidak ditempatkan di tempat yang seharusnya, demikian juga nasihat orang tidak akan berdaya guna jika kita tidak mendengarkannya. Mendengarkan orang lain tidak akan membuat kita menjadi rugi atau direndahkan, melainkan akan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Apakah kita siap untuk mendengarkan?

(Fr.Richie Sumampouw)

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk. 8:18).

Marilah Berdoa:

Tuhan, semoga kami dapat menjadi pendengar yang setia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini