“PEMBERIAN YANG SEMPURNA”: Renungan, Sabtu 10 Juni 2023

0
966

Hari biasa (H).

Tb. 12:1,5-15,20; MT Tb. 13:2,6,7,8; Mrk. 12:38-44.

Saudara-saudari terkasih. Ketulusan hati merupakan tindakan yang sangat mulia. Sayangnya, tidak sedikit orang yang mengatasnamakan ketulusan hati untuk kepentingannya sendiri. Nyatanya, sikap ini seringkali menipu banyak orang dengan memanfaatkan yang namanya perbuatan baik. Dengan berbuat baik, seseorang dapat menyembunyikan ketidaktulusan hatinya. Hal ini seringkali dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencari nama baik agar mendapatkan pujian dari mereka yang melihatnya seperti yang ada pada bacaan hari ini.

Hal yang serupa seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Banyak diantara kita yang mencari ketenaran dengan memanfaatkan yang namanya perbuatan baik. Perbuatan mencari penghormatan demi ketenaran diri sendiri merupakan sebuah tindakan yang tidak terpuji. Jika hal itu terus dipertahankan maka sejatinya mereka telah menjadi pribadi yang munafik  sama seperti ahli-ahli Taurat yang suka mencari-cari penghormatan, duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan dalam perjamuan serta suka mengelabui orang-orang dengan doa-doa mereka yang panjang. Yesus berkata bahwa mereka pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Karena itu, melalui bacaan hari ini kita belajar untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan ketulusan hati tanpa ada kemunafikan. Namun, jika kita terus berusaha untuk melakukan suatu kebaikan dengan didasari oleh ketulusan hati yang benar-benar tulus dan murni tanpa sedikit pun kemunafikan, tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya kita bisa melakukan sesuatu dengan tulus hati seperti yang diinginkan Yesus. Yesus menginginkan kita untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan tulus hati dan Yesus pun memuji hal tersebut sebab tujuannya berbuat baik adalah untuk kepentingan orang lain semata-mata seperti yang diceritakan dalam bacaan hari ini tentang seorang janda miskin yang memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan persembahan ke dalam peti persembahan, sebab janda tersebut memberi dari kekurangannya sedangkan yang lainnya memberi dari kelimpahan mereka.

                                                                (Fr. Yodha Lontaan)

            “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:43-44)

Marilah berdoa:

Allah Bapa sumber segala rahmat, terangilah hati kami dalam setiap perjalanan hidup kami dan bantulah kami untuk menjadi pribadi yang dapat melaksanakan segala sesuatu dengan hati yang tulus tanpa pamrih seperti yang Engkau ajarkan kepada kami. Demi Kristus Tuhan Kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini