“DILAHIRKAN KEMBALI”: Renungan, Selasa 18 April 2023

0
1665

Hari Biasa Pekan II (P).

Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab, 1c-2,5: Yoh. 3:7-15.

Sobat – sobat Kristus yang terkasih, tangisan adalah tanda di mana seorang anak manusia telah dilahirkan di dunia ini. Tangisan menjadi tanda bahwa bayi yang baru lahir ini beralih dari dunia yang penuh kenyamanan, menuju kepada dunia yang mengharuskan dia untuk hidup mandiri. Ini adalah peralihan dari kenyamanan menuju ketidaknyamanan. Seorang bayi yang sudah nyaman dengan rahim ibunya dipaksa keluar untuk menjalani rahim dunia ini yang penuh perjuangan. Berbicara tentang kelahiran tentunya ini adalah berita suka cita dan bahkan juga menjadi berita yang membawa duka. Proses kelahiran atau persalinan membawa ancaman juga bagi keselamatan ibu atau anaknya, ini adalah pergulatan antara ibu dan anak melawan maut.

Sungguh menarik bahwa hari ini Injil mengarahkan kita pada suatu percakapan yang menarik antara Yesus dan Nikodemus. Pembahasan yang menarik bahwa Yesus dan Nikodemus menaruh fokus pembicaraan terhadap kelahiran kembali atau kelahiran dalam Roh. Nikodemus tidak memahami hal yang dikatakan Yesus,  sebab dia memiliki pemahaman tersendiri tentang kelahiran ini yang berkaitan dengan kelahiran fisik. Pemahaman tentang kelahiran menurut Nikodemus membawa dirinya pada situasi bingung. Secara manusiawi bagaimana mungkin seorang dewasa perlu dilahirkan kembali? Mana mungkin seorang dewasa masuk kembali ke dalam rahim ibunya? Bagi Yesus sendiri kelahiran kembali itu tidak ada kaitan dengan pandangan manusiawi, tapi lebih ke pandangan tentang iman.

Sobat – sobat Kristus yang terkasih, kelahiran kembali atau kelahiran baru hanya dapat terjadi jika kita beriman kepada Yesus yang telah turun dari surga dan kembali ke surga. Kelahiran baru layaknya seorang bayi yang beralih dari dunia yang penuh  kenyamanan menuju kepada dunia yang penuh tantangan. Peralihan ini tentunya memiliki tantangan, hambatan, konsekuensi terhadap diri dan juga penyesuaian.  Biasanya kita sulit untuk keluar dari zona nyaman yang membuat kita untuk malas berjuang dan bahkan menghidupi sikap malas. Yesus menekankan pada kita bahwa berusahalah untuk dilahirkan kembali di dalam Roh. Di masa paskah ini kita tentunya diharapkan untuk menjadi pemenang dalam pertarungan kita di dunia. Pertarungan dari dosa bahkan pertarungan dari keegoisan kita yang pada akhirnya membawa kita pada kebinasaan.

Kebangkitan Yesus menjadi tanda kelahiran kembali dalam Roh. Peristiwa ini hendak mengajak kita untuk menjadi manusia baru yang dilahirkan di dalam Roh.  Persekutuan dengan Yesus itulah yang menjadikan kita baru dan inilah jaminan keselamatan yang berasal dari Allah. Kelahiran kembali menjadi sangat penting karena ini adalah tiket  bagi kita menuju ke hidup yang kekal. Marilah kita berusaha mendengarkan suara Tuhan, memahami sabda Tuhan dan berusaha menerima Tuhan di dalam hidup kita serta melaksanakan seluruh kehendak Tuhan. Semoga damai Tuhan menyertai kita semua. Amin.

(Fr. Fujio Fransiskus Tawas)

“Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali”.           (Yoh. 3:7)

Marilah Berdoa:

Tuhan, semoga kami dimampukan untuk memperbaharui diri kami dalam kehendakMu setiap hari. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini