Hari Biasa (H)
BcE 1Kor. 7:25-31; Mzm. 45:11-12,14-15,16-17; Luk. 6:20-26
“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Ini adalah sebuah pepatah lama yang memiliki arti yang besar untuk kehidupan kita. Pepatah ini memberikan pemahaman bagi kita agar mampu bekerja keras, demi mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di masa depan atau menunda kebahagiaan yang sementara demi kebahagiaan yang lebih besar. Contohnya, ketika kita akan bangun dari tidur, kita memilih apakah kita akan tetap dengan kebahagiaan di tempat tidur atau kita akan bangun untuk bekerja demi mencapai sesuatu. Jika kita memilih tidur maka kita akan merasa senang dengan kemalasan. Dan kemudian akan berdampak buruk untuk pekerjaan kita hari itu, yang seharusnya sudah dapat diselesaikan dan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada hanya tidur.
Perkataan atau ucapan Yesus dalam Injil adalah ucapan untuk mereka yang ingin bahagia dan peringatan bagi mereka yang menginginkan kebahagiaan yang fana. Kebahagiaan yang utama dari perkataan Yesus adalah kebahagiaan yang diterima dan berasal dari Allah. Sedangkan kebahagiaan yang berasal dari dunia dan pujian manusia, akan membuat kamu sombong, merasa jauh dari Allah dan tidak membutuhkan Allah. Tindakan tersebut akan membuat kamu itu celaka.
Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan adalah sumber kebahagiaan kita. Kita hendaklah mau untuk menggantungkan diri kita kepada Tuhan, sebagai sumber kebahagiaan kita. Menggantungkan diri kepada Tuhan bukan berarti kita akan selalu senang dan bahagia serta tidak bekerja keras, melainkan kita akan memiliki kekuatan yang mau bekerja keras seperti orang yang miskin di hadapan Tuhan, orang yang lapar dan mau bekerja sama bersama Tuhan, orang yang menangis dan menginginkan penghiburan dari Tuhan dan orang yang mau berkurban demi kemuliaan Tuhan. Inilah semua yang disebut sebagai spirit dan motivasi pengikut Tuhan.
Seorang pengikut Tuhan harus menggantungkan diri pada Tuhan dan meyakini bahwa dia akan bekerja sama dengan Tuhan dan mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan abadi bersama Tuhan. Tetapi orang yang tidak mengandalkan Tuhan tidak akan sampai pada kebahagiaan itu melainkan hanya sampai pada kedosaan yaitu sikap egoisme, kesombongan, keserakahan, iri hati, dan kedengkian. Hal itu terjadi karena spiritnya bukanlah Tuhan melainkan keinginan pribadinya yang fana.
Sudahkah kita mau memandang Tuhan sebagai tujuan hidup dan teman kerja kita? Ataukah kita hanya menggunakan tujuan pribadi kita dan tidak mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakan dan hidup kita? Sebagai orang beriman hendaklah kita tetap harus mengandalkan Tuhan dalam setiap hidup dan tujuan kita.
(Fr. Alfianus Dianomo)
“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu” (Luk. 6:22a).
Marilah berdoa:
Allah Bapa yang Mahabaik, tuntunlah kami agar kami tetap teguh dan percaya bahwa Engkaulah sumber kehidupan kami. Amin











