“Bersyukur dan Terbuka atas Rahmat Tuhan”;Renungan, Selasa 21 Juni 2022

0
1205

Pw S. Aloisius Gonzaga

2Raj. 19:9b-11, 14-21; Mzm. 48:2-3a, 3b-4, 10-11; Mat 7:6,12-14

Kita sebagai manusia sering kali terjerumus dalam dosa keserakahan. Keserakahan yang kita buat itu, terjadi bukan karena kesalahan orang lain melainkan karena kebodohan dalam diri kita sendiri. Bodoh, karena kita tidak tahu bagaimana cara bersyukur atas segala hal yang telah kita miliki dalam diri kita. Kita terkadang disibukkan dengan segala macam persaingan duniawi yang tidak jelas. Persaingan duniawi ini yang membuat kita lupa akan potensi yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hal ini membuat kita selalu ingin menjadi orang yang paling hebat diantara banyak orang, sehingga kita menjadi orang yang “lupa diri”. Namun, anehnya ketika kita gagal dalam persaingan duniawi itu, kita marah kepada siapapun, termasuk Tuhan. Padahal jalan yang kita pilih itu bukan berasal dari Tuhan atau orang lain melainkan diri kita sendiri yang memilih jalan itu, Mengapa kita tidak berani untuk marah terhadap diri kita sendiri?

Dalam Injil, hari ini kita diajak untuk berefleksi, mengapa kita sering kali lalai untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita? Potensi yang ada di dalam diri kita ini diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma dan apa yang kita miliki belum tentu orang lain miliki. Potensi yang Tuhan berikan kepada kita itu kudus dan sangat berharga untuk kita maupun orang lain, maka seharusnya yang kita lakukan adalah selalu bersyukur atas anugerah Tuhan itu. Bersyukur saja tidak cukup, kita harus terbuka kepada Tuhan dan sesama agar apa yang kita miliki dalam diri kita itu dapat menjadi saluran berkat untuk sesama. Bersyukur dan terbuka adalah dua aspek yang dapat membuat kita untuk melakukan hal-hal yang baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Dengan bersyukur dan bersikap terbuka, itu juga akan menjadi modal untuk dapat berjalan di jalan yang benar yakni, jalan Tuhan.

Hari ini gereja memperingati St. Aloisius Gonzaga. St. Aloisius adalah sosok yang terkenal dengan kesalehan dan kerendahan hatinya. Ia adalah seorang bangsawan yang rela meninggalkan apa yang menjadi warisan harta duniawi yang berlimpah, demi menggapai warisan harta surgawi yang abadi. Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja dalam hidup St. Aloisius, tetapi hal ini terjadi karena St. Aloisius adalah seorang yang rendah hati dan terbuka terhadap panggilan yang diberikan Tuhan kepadanya. Sehingga, ia menyadari hal itu dan tahu kemana arah yang benar untuk ia berjalan. Maka dari itu, marilah kita mencontohi sikap hidup dari Santo ini untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan kita.

(Fr. Kristovel Pepende)

“Masuklah melalui Pintu yang sesak itu…”(Mat. 7:13)

Marilah Berdoa:

            Ya Tuhan, bantulah kami untuk menjadi orang yang selalu bersyuku dan terbuka atas rahmat yang Engkau berikan dalam diri maupun kehidupan kami.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini