Hari biasa (H)
2Raj. 17:5-8, 13-15a, 18; Mzr. 60:3, 4-5, 12-13; Mat. 7:1-5
Sebagai manusia sosial, hidup kita tak terlepas dari orang lain. Keberadaan orang lain dalam hidup memberikan warna tersendiri bagi perkembangan hidup kita masing-masing. Namun terkadang kita berpikir bahwa kita adalah manusia yang paling sempurna, yang paling berkuasa, dan paling benar dari orang lain. Sehingga kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan diri sendiri. Menghakimi dan melihat segala kesalahan orang lain adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan. Tetapi yang paling sulit adalah melihat kesalahan sendiri walau pun kesalahan itu cukup besar. Inilah sifat alami manusia yang menganggap dirinya paling sempurna.
Dalam bacaan pertama, dikisahkan mengenai orang Israel yang menganggap diri mereka paling sempurna dan paling benar, sehingga mereka tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka. Atas egois dan kesombongan diri mereka, maka Tuhan membiarkan mereka mengalami pembuangan oleh raja Asyur. Dari sini kita belajar bahwa sering kali kita tidak percaya akan penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita dan merasa diri paling benar dan sempurna.
Bacaan Injil berbicara tentang hal menghakimi. Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali menghakimi sesama. Tindakan menghakimi yang seringkali kita lakukan adalah menuduh dan menilai orang lain. kita menilai orang lain berdasarkan penilaian-penilaian subjektif, yang keluar dari dalam diri kita. Ada bermacam-macam penilaian yang diarahkan bagi orang lain misalkan dari sifat baik dan buruk, bodok atau pandai, rajin atau malas, dan seterusnya. Akibat terlalu banyak menilai orang lain, maka kita lupa untuk menilai diri kita sendiri.
Atas tindakan dan perbuatan kita yang suka menilai orang lain maka Tuhan secara tegas menegur orang yang suka menghakimi sesama. Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarkanlah aku mengeluarkan selumbar dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Lebih lanjut Yesus menegaskan “Hai orang-orang munafik, keluarkanlah dahulu balok di matamu, maka engkau akan melihat jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”. Ayat ini sebagai penegasan akhir yang menjelaskan bahwa orang yang suka menghakimi orang lain adalah orang munafik. Mengapa orang yang suka menghakimi disebut sebagai orang munafik? Karena dia hanya tahu kesalahan orang lain dan merasa dirinya benar. Padahal dirinya adalah orang yang paling berdosa. Mari kita bertobat dan memperbaiki diri, dan biarlah Tuhan yang mengadili hidup kita. Salah satu cara agar hidup bijaksana adalah dengan mengenal diri sendiri.
(Fr. Bonefasius Sola)
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat.7:1).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah kami agar mampu melihat kesalahan-kesalahan diri sendiri. Amin.











