Pesta S. Stefanus, Martir Pertama (M)
Hari kedua dalam Oktaf Natal.
Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22.
Sepanjang oktav Natal yang penuh sukacita, kita dipanggil untuk merenungkan pesan yang disampaikan pada Pesta Santo Stefanus. Stefanus merupakan martir pertama dalam sejarah Gereja. Ia dikenal sebagai seorang yang penuh iman dan Roh Kudus turut berkerja dalam hidupnya. Kisah Santo Stefanus menjadi teladan iman yang teguh dalam menghadapi penganiayaan dan tetap setia kepada Tuhan hingga akhir hidupnya. Di saat bersamaan juga, kita masih merayakan kelahiran Yesus Kristus, dimana kita diingatkan kembali akan pentingnya pengorbanan dalam iman kita.
Bacaan Injil pada Matius 10:17-22 menggambarkan instruksi Yesus kepada para rasulNya tentang penganiayaan yang mungkin mereka alami karena kesaksian mereka tentang Dia. Yesus berkata, “Kalian akan dikejar-kejar di satu kota ke kota yang lain; mereka akan memukul kalian dengan tongkat, dan kalian akan dihadapkan ke pengadilan karena namaKu” (Matius 10:23). Ini merupakan panggilan Yesus kepada para rasul dan kepada kita semua untuk tetap setia kepada iman kita, sekalipun menghadapi tantangan dan penganiayaan.
Santo Stefanus yang merupakan martir pertama dalam sejarah Gereja, menjadi contoh nyata dari pengorbanan iman. Ia tidak hanya bersaksi tentang Yesus Kristus, tetapi juga siap untuk mati demi iman itu. Hari ini kita dipanggil untuk merenungkan bagaimana kita dapat mengikuti teladan Santo Stefanus dalam hidup kita sehari-hari.
Ketika kita merenungkan bacaan Injil ini, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: “Apakah kita bersedia menghadapi tantangan dan penganiayaan dalam hidup kita demi iman akan Kristus?” Pesta Santo Stefanus yang kita rayakan ini, mengajarkan kepada kita pentingnya kesetiaan kepada iman dalam segala kondisi, bahkan dalam menghadapi ketidaksetujuan atau pertentangan.
Dalam oktav Natal yang penuh sukacita ini, mari kita juga merenungkan pesan dari bacaan Injil pada Pesta Santo Stefanus ini, bahwa pengorbanan dan keteguhan iman adalah bagian penting dari panggilan kita sebagai orang Kristen. Semoga kita dapat menemukan inspirasi dalam kesaksian Santo Stefanus dan membiarkan iman kita terus berkembang dalam cinta dan keteguhan.
Paulus Gino Wuisan
“Sungguh aku melihat langit terbuka, dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (Mat. 26:64).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berkurban dengan sukacita. Amin.











