Hari Biasa (H).
Mal. 3:1-13-4:2a; Mzm. 1:1-1-2,3,4,6; Luk. 11:5-13.
Dalam kehidupan berkeluarga, pasti tidak ada orang tua yang menghendaki sesuatu yang tidak baik untuk anaknya. Setiap orang tua pasti berusaha memberikan sesuatu yang baik guna perkembangan anak. Mulai dari pendidikan yang bermutu, kehidupan yang layak bahkan kasih sayang yang tiada taranya. Seluruh hidup, jiwa maupun raga mereka, semua hanya semata-mata diperuntukkan bagi anak mereka. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa orang tua adalah wakil Allah di dunia, sebab mereka tahu memberikan apa yang baik seturut kehendak Allah.
Injil hari ini mengajarkan kita tentang hal berdoa. Yesus mengajarkan bahwa hal berdoa sama seperti seorang sahabat yang tidak canggung untuk menyampaikan kebutuhannya. Sekalipun ia telah tidur dan pintu-pintu rumahnya telah ditutup, ia tidak mungkin menolaknya. Ia pasti akan bangun, membukakan pintu dan menolong sahabatnya. Sebab, seperti seorang bapa yang mencukupi dan memberi yang terbaik untuk keperluan anaknya, demikian pula Allah. Ia sangat mengetahui suatu pemberian yang terbaik bagi kita, apalagi mendengarkan dan menjawab doa-doa kita. Tetapi, apakah hanya dengan berdoa dan semuanya selesai?
Membangun hubungan dengan Allah menjadi suatu aspek penting untuk memperoleh keselamatan. Bukan hanya dengan berdoa maka kita akan selamat, tetapi merealisasikannya dalam tindakan. Membantu dan memberikan pertolongan kepada sesama kita adalah bentuk doa yang nyata, doa yang sungguh-sungguh menghasilkan buah. Jadi, tidak hanya duduk dan minta-minta demi kepentingan pribadi semata. Tetapi bagaimana kita dapat menyalurkan rahmat yang Tuhan berikan untuk berbagi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Jadi, berdoa saja tentunya tidaklah cukup. Setiap doa harus dibarengi dengan perbuatan. Kita hidup bukan saja untuk diri kita sendiri tetapi bagaimana kita dapat memberikan kehidupan kepada orang lain walaupun hanya sedikit. Sebab, lebih mulialah seorang yang jahat tapi mampu berbuat baik terhadap saudara-saudaranya, daripada seorang yang baik, tetapi tidak menyatakan kebaikan itu kepada sesamanya. Biarlah iman yang sejak dahulu kita terima tetap kita pelihara sampai berbuah masak. Layaknya doa yang kita panjatkan: mungkin Tuhan tidak langsung mengabulkan doa kita, tetapi kita terus percaya dan berharap bahwa Bapa yang baik pasti tahu apa yang kita butuhkan. Karena itu, wujud yang sama akan menjadi lebih bermakna apabila semuanya itu selaras dengan perbuatan kita kepada orang lain. Dengan demikian, kita tidak akan pernah merasa kurang, sebab kita senantiasa berkecukupan di dalam Dia yang empunya segala sesuatu.
(Redaksi)
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk. 11:9)
Marilah berdoa:
Ya Allah, semoga kami tidak hanya meminta kepadaMu tetapi kami dapat memberikan juga kepada orang lain. Amin.











