Hari Biasa (H)
Hag. 1:1-8;Mzm. 149: 1-2-3-4-5-6a,9b; Luk. 9:7-9.
Setiap orang pasti pernah mengalami rasa takut dan cemas, dalam hidupnya. Rasa takut bisa membuat seseorang menghindar atau lari meninggalkan hal yang ditakutinya. Akan tetapi pilihan untuk berlari dan menghindari rasa takut dan cemas itu tidak dapat membuat seseorang segera melupakan peristiwa yang menakutkan tersebut. Pilihan menghindar bukanlah jalan yang tepat.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar bahwa Herodes yang merasa cemas dan ketakutan karena mendengar bahwa Yohanes pembaptis telah bangkit dari antara orang mati. Ia telah mengutus murid-muridNya untuk berkhotbah serta menyembuhkan banyak orang. Herodes merasa cemas sebab dia tidak percaya bahwa Yohanes telah bangkit. Maka, ia berkata; “ Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya telah melakukan hal-hal demikian? Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”. Dari ayat ini dapat dilihat bahwa Herodes yang karena ketakutan dan kecemasannya membuat ia berusaha untuk menemui Yesus. Agar semua kecemasan yang ia rasakan hilang.
Tindakan Herodes yang bernafsu untuk menemui Yesus adalah suatu tindakan yang mempunyai banyak arti dan makna. Jika setiap orang berusaha untuk menginterpretasinya. Namun, dalam permenungan hari ini, kita dapat mengambil hal positifnya saja untuk menjadikan bahan pelajaran hidup untuk kita. Hal positif itu yakni keberanian dan usaha Herodes untuk bertemu dengan Yesus. Kita sebagai umat Allah tentu sering mengalami hal yang sama dengan Herodes. Kita pernah merasa ketakutan, cemas dan khawatir akan kehidupan yang penuh dengan misteri. Dari pengalaman Herodes, kita belajar bahwa kita harus berani dan berusaha untuk melawan semua rasa takut dan cemas yang selalu menghantui kehidupan kita sebagai umat beriman. Dengan keberanian dan usaha untuk melawan hal itu, kita dapat mendekatkan diri dengan Tuhan. Kita tak perlu menghindar dari perasaan yang takut itu, tetapi yang kita lakukan adalah berani untuk melawan dan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.
Rasa takut dan cemas adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang. Namun, ketika kita mengalami perasaan seperti itu, apa tindakan yang kita lakukan sebagai umat beriman? Apakah kita mampu melawan rasa takut dan cemas itu? Atau, kita malah meninggalkan iman kita?
(Fr. Mikael George Bekor)
“…lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus” (Luk. 9:9)
Marilah Berdoa:
Tuhan, lindungi kami dari ketakutan kami. Amin.











