“SANG RATU”: Renungan, Selasa, 22 Agustus 2023

0
1516

Pw SP Maria, Ratu (P).

Hak. 6:11-24a; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 19:23-30.

Hari ini dalam peringatan wajib santa perawan Maria Ratu, Gereja mengajak kita untuk merenungkan peran dan teladan yang diberikan oleh Bunda Maria. Dalam berbagai pengajaran dan perumpamaanNya, Yesus sering memberikan kritik terhadap orang kaya, dan dalam bacaan Injil hari ini, Dia mengatakan bahwa lebih mudah bagi seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Namun, dalam bacaan hari ini, kita diingatkan bahwa menjadi kaya itu bukanlah dosa yang inheren. Bagi orang yang saleh, kekayaan dapat menjadi berkat yang diperoleh melalui kesalehan, ketekunan, dan kegigihan mereka. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar kekayaan dan kenikmatan materi tidak mengambil tempat yang seharusnya ditempati oleh Allah dalam hidup kita.

Dalam konteks peringatan wajib Santa Perawan Maria Ratu, Bunda Maria memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana menghindari belaian duniawi dan mengutamakan tujuan utama dalam hidup. Maria adalah Ratu yang mengabdi sepenuhnya kepada kehendak Allah. Ia dengan rendah hati menerima rencana Allah dan menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Seperti Santa Perawan Maria Ratu, kita juga dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang erat dengan Kristus, mengutamakan tujuan utama hidup kita, yaitu bersatu dengan Allah. Dalam perjalanan hidup kita sebagai pengikut Kristus, kita harus waspada agar tidak terjerumus dalam belaian duniawi yang mengancam kita dengan maut, dan tetap menjaga fokus pada tujuan akhir kita, yaitu bersatu dengan Allah.

Bunda Maria Ratu menjadi teladan bagi kita dalam kesetiaan, kerendahan hati, dan kepatuhan kepada kehendak Allah. Melalui peran khususnya dalam rencana penyelamatan Allah, Maria adalah panutan dan pembimbing bagi kita. Mari kita merenungkan teladan dan pengajaran Bunda Maria Ratu, dan memohon perantaraan dan perlindungan-Nya saat kita berjuang untuk mengutamakan tujuan hidup yang benar.

(Fr. Paulus Gino Wuisan)

“Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mat. 19:29)

 

Marilah kita berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami tidak mudah terbuai dengan belaian duniawi melainkan tetap setia pada kehendakMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini