“KESETIAAN MUSA DAN NASIHAT YESUS”: Renungan Rabu, 16 Agustus 2023

0
1201

Hari Biasa (H).

Ul. 34:1-12; Mzm.66:1-3a,5,8,16-17; Mat. 18:15-20.

Musa merupakan nabi terbesar. Kitab Suci Perjanjian Lama menyebutkan bahwa belum pernah ada nabi yang lebih besar darinya. Salah satu warisan iman yang dapat kita terima dari Musa ialah teladan kesetiaannya kepada Allah. Musa dianggap sebagai nabi yang paling besar, bukan karena kepemimpinannya yang luar biasa terhadap bangsa Israel, tetapi juga karena kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Allah. Dalam segala keadaan, Musa tetap setia dan patuh kepada panggilan-Nya.

Kesetiaan merupakan nilai penting dalam hidup iman yang Musa ajarkan kepada kita. Terlepas dari rintangan dan cobaan yang mungkin kita hadapi, penting untuk mempertahankan kesetiaan kita kepada Tuhan. Musa adalah teladan yang kuat dalam kesetiaannya yang tak tergoyahkan, sehingga ia memperoleh tempat yang istimewa dalam sejarah keselamatan.

Kesetiaan pada Allah juga ditunjukkan oleh Yesus, Tuhan kita. Ia dalam Injil hari ini, memberikan nasihat kepada siapa pun yang bertanggung jawab dalam Gereja. Yesus memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana kita harus menghadapi situasi di mana saudara kita berdosa. Ia mengajarkan pentingnya menghadapi mereka dengan kasih dan kejujuran, dengan tujuan memperbaiki hubungan dan memulihkan persatuan dalam komunitas iman.

Nasihat Yesus ini menekankan pentingnya tanggung jawab kita sebagai anggota Gereja untuk saling mengasihi dan melayani satu sama lain. Kita harus siap untuk memperbaiki hubungan yang terluka dan mengampuni mereka yang melakukan kesalahan, terutama mereka yang berdosa. Tanggung jawab ini mengharuskan kita untuk menjadi saksi kasih dan pengampunan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kesetiaan Musa kepada Tuhan dan nasihat Yesus tentang tanggung jawab dalam Gereja memiliki keterkaitan yang kuat. Keduanya mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan yang sehat dalam komunitas iman. Kesetiaan kita kepada Tuhan harus tercermin dalam pengampunan dan rekonsiliasi kita dengan sesama. Hanya dengan mempraktikkan cinta kasih dan pengampunan, kita dapat memperkuat ikatan di antara kita dan membangun Gereja yang kuat dan harmonis.

Marilah kita mengambil teladan dari kesetiaan Musa kepada Tuhan dan menghayati nasihat Yesus tentang tanggung jawab dalam Gereja. Saat kita menghadapi konflik atau kesalahan di dalam komunitas iman, hendaknya kita menjalankan tugas kita dengan kasih dan kejujuran. Dalam pengampunan dan rekonsiliasi, kita akan menunjukkan wajah Kristus kepada dunia dan menjadi saksi kebenaran, cinta, dan kasih.

Semoga kesetiaan dan tanggung jawab kita sebagai umat Katolik selalu menjadi cerminan kasih dan pengampunan Tuhan, sehingga Gereja dapat terus tumbuh dan menjadi saksi yang hidup bagi dunia.

 (Fr. Antonius Braien El)

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah d  dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali!” (Mat. 18:15).

Marilah berdoa:

Yesus Sang Teladan dan Pedoman hidup kami, bantulah kami untuk bisa setia dan bertanggung jawab seperti-Mu. Amin

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini