“REFLEKSI DIRI”: Renungan, Selasa, 4 Juli 2023

0
1443

Hari Biasa (H).

Kej. 19:15-29; Mzm. 26:2-3, 9-10, 12; Mat. 8:23-27.

Setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari tentu ada begitu banyak pengalaman suka-duka yang dialami. Kita pun orang yang percaya kepada Tuhan tidak lepas dari pengalaman-pengalaman duka. Setiap pengalaman terlebih pengalaman duka, jika tidak direfleksikan akan membawa manusia pada sikap ketidakpecayaan kepada Tuhan.

Injil hari ini mengisahkan pengalaman murid-murid bersama dengan Yesus yang diterpa angin rebut ketika berada di atas perahu. Para murid yang ketakutan membangunkan Yesus dan meminta pertolongan. Yesus kemudian bangun dari tidurNya dan menghardik angin dan danau, sehingga danau itu menjadi sangat tenang. Tindakan Yesus itu membuat para murid kagum dan terus bertanya-tanya, siapakah Dia sehingga angin dan ombak pun taat padaNya? Mujizat yang dilakukan Yesus, sejatinya telah menunjukkan identitas-Nya bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh anak Allah. Karena Yesus adalah anak Allah, maka segala sesuatu dapat dilakukan olehNya. Hal itu nampak ketika Yesus menenangkan angin dan ombak yang sedang mengamuk. Ini merupakan sebuah peristiwa iman yang luar biasa. Mujizat yang dilakukan Yesus, telah memberi gambaran kepada para murid supaya mereka dapat mengenal diriNya yang sesungguhnya. Namun sangat disayangkan, para murid lambat untuk memahami dan mengenal siapa itu Yesus. Hal itu dikarenakan, mereka hanya melihat segala peristiwa itu sebagai sebuah peristiwa luar biasa namun tidak merefleksikannya. Seandainya para murid melihat dengan menggunakan kaca mata iman, maka para murid akan memahami dan dapat mengenal Yesus secara lebih mendalam.

Apa yang terjadi dalam diri para murid yang melihat tindakan Yesus dapat kita refleksikan bersama. Para murid yang secara langsung menyaksikan mujizat yang dilakukan Yesus tidak menyadari bahwa sebenarnya Yesus memberikan gambaran kepada mereka tentang jati diriNya. Lantas bagaimana dengan kita yang belum pernah melihat mujizat Yesus secara langsung, apakah kita ragu dengan iman dan kepercayaan kita akan Yesus Anak Allah atau tidak? Atau, apakah kita kurang peka dan tidak menyadari cinta kasih Allah yang diberikanNya dalam kehidupan kita sehari-hari?

(Fr. Yohanes Krisostomus Siga)

“Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” (Mat. 8:23-27)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan kuatkanlah iman kami agar kami senantiasa percaya kepadaMu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini