“KERENDAHAN HATI”: Renungan Senin, 26 Juni 2023

0
865

Hari biasa (H).

Kej. 12:1-9; Mzm. 33:12-13,18-19,20,22; Mat. 7:1-5.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali tergoda untuk menilai dan menghakimi orang lain. Kita cenderung melihat kesalahan dan kekurangan orang lain di sekitar kita tanpa melihat ke dalam diri kita sendiri. Sikap seperti ini hendaklah kita tinggalkan. Yesus dalam bacaan Injil hari ini menekankan pentingnya sikap introspeksi diri dan merenungkan sikap kita sendiri sebelum kita menghakimi orang lain sebagai wujud dari kerendahan hati.

Saudara-saudari yang terkasih. Kerendahan hati adalah sikap yang sungguh luar biasa. Ia membebaskan kita dari sikap sombong dan membuka pintu bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Ketika kita menghakimi orang lain, kita dengan tidak sadar menunjukkan keangkuhan dan kesombongan diri kita sendiri. Kita seolah-olah memposisikan diri kita di atas orang lain, sebagai pengadil yang sempurna bagi orang lain. Namun, Yesus meminta kita untuk dengan kerendahan hati mengakui kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Ia mengajarkan kita untuk menarik diri dari peran hakim yang tinggi, dan menggantinya dengan kasih dan pengampunan. Dengan demikian, kerendahan hati membantu kita untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, karena kita dapat melihat sesama kita dengan pengertian dan belas kasihan.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus dalam bacaan Injil hari ini juga menekankan betapa pentingnya berfokus pada pertumbuhan dan perbaikan pribadi kita sendiri, daripada menghabiskan waktu dan energi untuk menghakimi orang lain. Ia mengajak kita untuk melihat cermin yang mencerminkan diri kita sendiri, sebelum kita melihat keadaan orang lain. Marilah kita berusaha menjadi pribadi yang rendah hati, yang memahami bahwa kita sebagai manusia tak luput dari kesalahan. Marilah kita melihat orang lain dengan mata pengertian dan belas kasihan, dan mempraktikkan kasih yang tanpa pamrih. Dalam prosesnya, kita akan menemukan diri kita tumbuh dalam kedewasaan rohani dan mendapatkan penghakiman yang penuh dengan pengampunan dari Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih. Dalam kerendahan hati, kita menemukan kehidupan yang lebih bermakna dan berarti. Kita belajar untuk memuliakan dan menghormati orang lain, serta menghormati kesatuan dan persatuan dalam perbedaan kita. Saat kita merangkul kerendahan hati, kita menjadi cermin yang memantulkan kasih dan kebaikan Tuhan kepada dunia di sekitar kita. Marilah kita hidup dengan kerendahan hati dan menghormati setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, karena di dalam kerendahan hati, kita menemukan kehidupan yang bermakna dan berarti dalam Tuhan.

(Fr. Fransiskus Savsavubun)

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balik di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat. 7: 3)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan jadikanlah aku pribadi yang rendah hati sehingga tidak mudah untuk menghakimi orang lain. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini