“JADILAH GARAM DAN TERANG DUNIA” : Renungan, Selasa 13 Juni 2023

0
10977

Pw S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja.

BcE 2Kor 1:18-22; Mzm. 119:129,130,131,132,133,135; Mat5:13-16

Saudara/i terkasih, ketika kita diundang untuk mengukuti pesta pernikahan pastinya ada begitu banyak jenis makanan yang dihidangkan. Bayangkan jika menu-menu itu tidak diberi garam atau penyedap rasa. Atau bisakah kita bayangkan jika dunia yang indah ini tidak memiliki terang. Saya pikir garam dan terang adalah dua bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Hari ini yang menjadi inti permenungan kita ialah tentang ‘garam dan terang’. Injil hari ini mengisahkan salah satu isi khotbah Yesus di bukit yang mengangkat tema “garam dan terang dunia”. Yesus mengatakan, kamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar dengan apakah akan diasinkan? Yesus juga berkata demikian, kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak diatas gunung tidak mungkin tersembunyi. Tentunya kita semua tahu bahwa garam selalu membawa rasa pada sesuatu, begitu juga dengan terang selalu memperjelas sesuatu. Hakikat dari garam adalah rasa dan garam hanya bisa dikatakan sebagai garam kalau dia selalu memberi rasa. Begitu juga dengan cahaya yang selalu mengungkapakan sesuatu yang tersembunyi. Sebagai manusia kita juga dituntut untuk menjadi garam dan terang bagi orang -orang disekitar kita. Rasa yang dimaksudkan bukanlah rasa dalam arti ilmiah tapi lebih menunjuk pada kualitas diri yang kita bawa. Selayaknya garam yang memberi efek, memberi dampak, memberi rasa pada sesuatu yang lain, maka sebagai manusia kita juga harus membagikan kualitas diri yang kita punya.

Kedekatan kita dengan Tuhan hendaklah selalu kita bagikan dalam kehidupan kita, tapi ingat Tuhan menegaskan bahwa kiranya garam itu janganlah menjadi tawar. Artinya janganlah dikemudian hari kita tidak lagi memberi dampak positif bagi orang–orang disekitar kita. Tuhan yang selalu memberikan berkat bagi kita hendaknya kita salurkan juga berkat itu pada orang lain. Dengan demikian kita menjadi pembawa rasa pada orang lain. Untuk menjadi garam sejati tentunya kita juga harus memperhatikan kualitas diri kita. kita diharapkan selalu memperkuat relasi kita dengan Tuhan. Begitu juga dengan terang, untuk menjadi terang sejati kita diharapkan untuk selalu dekat pada terang sejati. Dengan demikian kita dapat juga menerangi hidup orang lain. Bagaimana kita dapat menerangi orang lain jika hidup ktia sendiri gelap dan bahkan tidak memiliki setitik cahaya. Tuhan mengharapkan bahwa terang yang kita bawa senantiasa membuat orang melihat perbuatan Allah yang begitu baik dan pada akhirnya mereka memuji dan memuliakan Allah.

Saudara/i terkasih dalam Tuhan, ingat bahwa untuk menjadi garam dan terang dunia kita harus mendekatkan diri pada Tuhan. Kualitas yang kita miliki dari relasi dengan Tuhan itulah yang kita bagikan bagi  sesama. Dengan demikian kita bukan hanya menjadi saluran berkat, tapi kita menjadi pembawa rasa bagi orang lain. Hari ini gereja juga memperingati Santo Antonius dari padua, dari orang kudus ini kita kemudian melihat bagaimana garam dan terang itu berfungsi dalam kehdupan. Marilah kita menjadi garam dan terang bagi banyak orang. banyak orang.

(Fr. Fujio Tawas)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan yang baik dan memuliakan Bapa yang di Sorga” (Matius 5:16)

Marilah Berdoa:

Tuhan semoga berkat yang Engkau berikan senantiasa juga dapat saya bagikan bagi orang lain. Semoga kehadiran saya di tengah sesama selalu membawa dampak positif dan terlebih khusus menjadi pembawa rasa bagi sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini