“SAKSI YANG BENAR”: Renungan, Kamis 23 Maret 2023

0
853

Hari biasa Pekan IV Prapaskah (U)

BcE Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47

Dalam menangani sebuah kasus pastinya kita membutuhkan bukti dan saksi. Di zaman sekarang kita mengenal ada berbagai macam saksi, pada umumnya ada dua macam saksi yakni saksi yang benar dan saksi yang tidak benar. Saksi yang tidak benar merupakan saksi yang tidak dapat berbicara tentang kebenaran akan sebuah kejadian dalam situasi tertentu, hal itu dikarenakan dua kemungkinan yakni saksi tersebut mendapat ancaman eksternal yang memaksa dia untuk bebicara dusta, atau ada hal yang ingin dicapai sebagai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Sedangkan saksi yang benar adalah saksi yang berbicara tentang kebenaran yang benar-benar terjadi dimana pun dan kapan pun demi kepentingan bersama.

Sama halnya dengan Yesus yang dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa Yesus itu merupakan seorang saksi yang benar. Kesaksian-Nya benar karena Yesus bersaksi atas nama Bapa, Ia merepresentasikan apa yang menjadi kehendak dan firman dari Bapa-Nya. Tentu saja dengan pekerjaan Yesus tersebut, apapun yang dikatakan dan diperbuat Yesus merupakan suatu kebenaran karena Allah merupakan sumber segala kebenaran, Ia mengetahui segala sesuatu dan tidak ada yang tersembunyi dari pada-Nya. Yesus sendiri sehakekat dengan Allah sehingga Kehadiran Yesus di dunia sama halnya dengan kehadiran Kebenaran sejati yang dirindukan oleh dunia.

Namun, apakah manusia sudah meneladani Yesus Kristus sebagai saksi yang benar yang tidak berbicara dusta atau menjadi saksi yang hanya mengejar keinginan pribadinya? Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak jarang menjadi seorang saksi yang tidak benar. Manusia bersaksi sesuai dengan apa yang ia rasakan, pikirkan atau inginkan. Terkadang orang yang sakit hati tidak mampu untuk berbicara tentang kebenaran atau kebohongan. Begitu pun apabila bersaksi tentang Yesus, terkadang orang sampai menganiaya orang lain bahkan membunuh dan mengatakan bahwa kita telah melakukan apa yang diinginkan Tuhan. Dengan demikian kita melibatkan Tuhan atas tindakan ketidakbenaran yang kita perbuat dan pada akhirnya jatuh dalam dosa yang berlapis-lapis. Pertanyaan refleksi bagi kita ialah, Apakah kita sudah menjadi saksi yang benar?

Fr. Cristefillius Rembaen

“Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”(Yohanes 5:47)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami menjadi pribadi yang benar dan menganal Engkau lebih dalam, sehingga mampu menjadi saksi yang benar untuk karya keselamatan-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini