HARI RAYA S. YOSEF, SUAMI SP. MARIA (P).
2Sam 7:4 5a.12-14a.16; Mzm 89:2-3.4-5.27.29; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a atau Luk 2:41-51a.
Hari ini umat beriman dalam kesatuan dengan Gereja Universal kembali diingatkan dengan sosok St. Yosef. Ia adalah bapak dari Yesus Kristus dan suami dari Santa Perawan Maria. Kitab Suci tidak mencatat banyak tentang St. Yosef, namun dalam perjalanan sejarah St. Yosef mendapatkan tempat dan penghormatan yang istimewa dalam kehidupan Gereja. Paus Pius IX pada 8 Desember 1870 menetapkan St. Yosef sebagai pelindung Gereja Katolik. Pada tahun 1937, Paus Pius XI mengangkat St. Yosef sebagai pelindung pujangga Gereja melawan komunisme ateistik. Pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII memilih St. Yosef sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Selain itu, sesudah Maria, tidak ada orang kudus yang lebih sering disebut dalam magisterium kepausan selain St. Yosef. Hal ini nampak dalam pengajaran para Paus tentang St. Yosef yang dimulai dari Bulla Cum Quorumdam Hominum (Paus Paulus IV, 1555) sampai Patris Corde (Paus Fransiskus, 2020).
Injil hari ini memberikan suatu jawaban terhadap pertanyaan: Mengapa St. Yosef mendapatkan tempat dan penghormatan dalam Gereja? Dengan mengambil Santa Perawan Maria, Bunda Allah, sebagai isterinya, Yosef telah menempatkan diri untuk melayani seluruh rencana keselamatan. Dalam pelayanannya, St. Yosef telah memberikan seluruh kehidupannya bagi keluarga kudus Nazaret. Pelayanan Yosef merupakan penggenapan janji Allah kepada Daud bahwa dari keturunannya akan lahir tunas, yakni Yesus yang akan mendirikan rumah (bait) bagi Allah. Selain itu, kebenaran hidup dan iman yang teguh pada Allah telah membawa Yosef pada pelayanannya yang penuh lemah lembut dan kasih, tanggung jawab, ketaatan, kesetiaan, dan keberanian bagi Yesus dan Maria.
Hari Raya St. Yosef mengingatkan kita akan keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Yosef dalam pelayanannya kepada keluarga kudus Nazaret. Kelemah-lembutan, kasih, tanggung jawab, ketaatan, kesetiaan, dan keberanian sebagaimana yang diteladankan Yosef haruslah menjadi kualitas kita sebagai orang beriman. Kualitas hidup beriman seperti itu hanya dapat diperoleh dengan membangun komitmen yang teguh dalam relasi dengan Allah. Hidup dalam kebenaran iman akan Allah mewajibkan kita untuk selalu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah dalam diri kita.
(Fr. Theofilus Pontoh)
“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu…”
(Mat 1:20)
Marilah berdoa:
Ya Allah, mampukanlah kami untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendakMu. Amin











