“Bangun dan Pergilah”, Renungan: Selasa, 31 Januari 2023

0
786

Pw. S. Yohanes Bosko, Im (P).

BcE Ibr 12:1-4; Mzm. 22: 26b-27. 28, 30, 31-32; Mrk 5:21-43 atau dr RUybs.

Bangunlah dada kelana hirup nafas iman yang baru pergilah ke sudut-sudut hati, nyanyikanlah lagu imanmu, pulanglah dengan damai sejati, nikmatilah rahmat Tuhanmu. Ini merupakan bait nyanyian Nafas Iman dalam buku nyanyian Madah Bakti. Lagu ini menjadi semangat sekaligus gambaran bahwa nafas iman itu ialah pergi ke sudut hati, nyanyikan iman, membawa damai dan menikmati rahmat Tuhan. Setiap orang diajak untuk menghirup nafas iman yang berasal dari Tuhan. Tuhan memberikan nafas kehidupan dan rahmat serta berkat kepada masing-masing orang untuk dikembangkan. Nafas itu sesungguhnya bukan hanya memberi hidup tapi juga memberi sebuah makna dan arti pada hidup setiap orang bahwa setiap orang yang telah menerima berkat itu dan selamat harus mampu memberi hidup kepada diri agar bangun dari sikap cinta diri yang berlebihan dan pergi membawa berkat. Santo Yohanes Bosko teladan kaum muda telah bangun dan bergerak serta pergi membawa nafas hidup kepada yang belum bangun dan hampir mati karena kedosaan dalam diri-Nya.

Penginjil Markus mengisahkan tentang iman yang menyelamatkan. Pertama, dalam pelayanannya ia kedatangan seorang kepala rumah tangga Yairus dan tersungkur di depan kaki Yesus serta memohon agar Yesus datang kepada anaknya yang hampir mati karena sakit lalu meletakkan tangan atas anak itu agar ia selamat. Namun ketika dalam perjalanan mereka, ternyata anak itu telah mati. Namun Yesus mengatakan bahwa anak ini tidak mati, tetapi tidur. Lalu Yeuss memegang tangan anak itu lalu anak itu bangun dan menyeruh mereka memberinya makan. Kedua, dalam kisah yang sama; waktu perjalanan mereka menuju rumah anak yang hampir mati itu, ada seorang wanita yang telah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan ketika Yesus lewat, ia menjamah jubah-Nya agar ia sembuh. Maka, sembuhlah ia. Karena Yesus tahu hal itu, perempuan itu menemui-Nya dan Yesus mengatakan bahwa Imannya telah menyelamatkannya. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu. Dari kedua kisah dengan konotasi yang sama ini, sesungguhnya terdapat dua poin penting yang mau Yesus menegaskan mengenai iman itu harus diwujudnyatakan dan diusahakan serta dilakukan yakni Bangun dan Pergi. Bangun berarti harus mampu mengalahkan kekuatan dosa, kemalasan diri, ketidapercayaan, hawa nafsu tak teraturan dan kecenderungan pada kejahatan bukan tidur dan dininabobokan dengan banyak kesenangan duniawi semata. Atau dengan kata lain, harus mampu membaharui diri menjadi pribadi yang baik dan benar di hadapan Tuhan melalui tutur kata, sikap dan perilaku yang benar. Kemudian, berkat yang diterima dari Tuhan dibagikan kepada banyak orang dengan pergi dan melakukan kebenaran itu. Bukan hanya menjaga keeksklusifan diri tanpa memandang kebutuhan orang lain.

Bangun dan pergilah menjadi pesan sekaligus gema bahwa iman yang dihidupi bukan hanya sebatas pada kata ‘saya beriman’ tetapi harus mampu dinyatakan melalui tindakan nyata seperti halnya yang ditekankan dalam surat Ibrani yakni melakukan kesaksian dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin setiap orang dalam iman, dan yang membawa iman itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Itulah yang telah dihidupi oleh Santo Yohanes Bosko. Maka, mari kita bangun dan pergi ke setiap sudut hati, menggemakan kebenaran dan membawa hidup serta sukacita kepada sesama yang membutuhkan.

            (Fr. Stevan Lerebulan)

“Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” (Mrk. 5:41b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bangkitkanlah semangat kami untuk semakin beriman benar kepada-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini