“Kasih Allah”: Renungan, Rabu 28 Desember 2022

0
950

Pesta Kanak-Kanak Suci, Mrt (M)

Hari Keempat dalam Oktaf Natal. E Kem PrefNat

BcE 1Yoh. 1:5-2:2; Mzm. 124:2-3.4-5.7b-8; Mat. 2:13-18

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai cobaan. Bagi sebagian orang, cobaan dapat menjadi pendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, bagi sebagian orang, cobaan dapat menghantar mereka dalam kegelapan akibat jatuh dalam cobaan tersebut dan melakukan dosa. Kekejaman Herodes membunuh anak-anak karena takut kehilangan kekuasaannya sebagai raja, menggambarkan kegelapan yang menguasai hidupnya. Ia sangat berambisi dan menentang apa yang menjadi kehendak Allah. Akan tetapi, kekuasaan yang dimiliki Herodes ternyata tidak mampu mencegah karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus.

Hal ini menjadi bukti bahwa kegelapan dunia akibat dosa telah diterangi oleh Allah melalui kehadiran Yesus Kristus. Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, karena hanya teranglah yang dapat mengusir kegelapan. Maka menyadari dan mengakui dosa, menjadi langkah awal bagi manusia dalam perjalanannya menuju Sang Terang. Menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang berdosa, menghantar setiap manusia untuk bertobat dan memohon pengampunan. Melalui pengampunanlah, manusia dapat dimurnikan kembali dan menjadi sarana dalam perjalanan menuju Sang Terang.

Peristiwa Herodes yang tak mampu mencegah karya keselamatan Allah dalam diri Yesus, menunjukkan bahwa keselamatan yang diperuntukan Allah bagi setiap manusia tidak dapat dialami jika kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Pengalaman keluarga kudus Nazaret yang menyingkir ke Mesir menjadi bukti campur tangan Allah agar umat-Nya dapat menemukan keselamatan. Ia tidak ingin agar umat yang dikasihi-Nya binasa, karena keserakahan manusia yang lain.

Oleh karena itu, pesta kanak-kanak suci hari ini kiranya mampu menyadarkan kita agar tidak menggunakan kekerasan selama hidup di dunia, serta senantiasa mengandalkan Allah dalam perjalanan kehidupan kita. Mengandalkan Allah berarti kita harus berpasrah kepada kehendak-Nya dan mengikuti apa yang diajarkan-Nya. Seperti Yesus yang mengajarkan agar kita dapat hidup dalam kasih, maka kita pun harus berbuat kasih yang sama kepada sesama. Dengan begitu, kita akan senantiasa ada dalam naungan terang kasih-Nya.

(Fr. Stanislaus Andris Laritmas)

Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari segala dosa” (1Yoh. 1:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami senantiasa hidup dalam naungan terang kasih-Mu. Amin

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini