“Melihat Dengan Hati”: Renungan, Kamis 22 September 2022

0
1997

Hari Biasa (H)

BcE Pkh. 1:2-11; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Luk. 9:7-9

Dalam satu kesempatan saya pernah bertemu dengan seorang ibu yang memiliki seorang anak laki-laki. Dia menjalani kehidupan dengan ekonomi yang terbatas bersama suami dan anak-anaknya. Ia pun bercerita bagaimana susahnya kehidupan yang mereka jalani tersebut dan meyakini bahwa anaknya akan sukses dan kehidupan mereka akan menjadi lebih baik dari kesuksesan anaknya. Saya bertanya kepadanya, ”Apa yang membuat ibu yakin tentang hal itu?” Jawabnya, “Karena hati saya mengatakan demikian dan anak saya sungguh pintar dan juara kelas setiap semesternya di SD. Saya yakin dengan kata hati ini, saya melihat masa depan anak saya yang cerah”.

Saudara-saudari yang terkasih, penginjil Lukas hari ini mengisahkan betapa takutnya Herodes saat mendengar kesaksian dari orang suruhannya mengenai gambaran orang yang sama seperti Yohanes Pembaptis yang Ia penggal kepalanya. Kesaksian mengenai kehebatan perbuatan Yesus kepada Herodes membuatnya cemas karena ada yang mengira bahwa Yohanes Pembaptis telah bangkit, Elia yang telah datang dan seorang dari para nabi. Namun mengapa sampai Herodes cemas? Karena kabar tentang Yesus mengancam kedudukannya sebagai raja wilayah.

Pada bagian pengantar tadi diceritakan seorang ibu yang mendengar dan melihat dengan hati masa depan yang cerah dari anak laki-lakinya. Sehubungan dengan kecemasan Herodes, terlihat bahwa Herodes terlalu lemah hatinya untuk melihat Yesus sebagai Juru selamat hidupnya. Herodes terlalu terbuai dengan kekayaan dan kedudukannya sebagai raja. Mata hati Herodes telah dibutakan oleh itu semua.

Bacaan pertama kitab Pengkotbah mengingatkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh kita setiap hari, hanya pengulangan yang telah dilakukan di hari sebelumnya dan berujung kesia-siaan. Lantas apa yang harus kita banggakan sebagai manusia di dunia ini tanpa bersandar pada Yesus Kristus? Dari kelalaian Herodes yang dikisahkan dalam Injil Lukas hari ini, kita diajak untuk belajar menggunakan hati kita untuk bisa melihat dan menyerahkan sepenuhnya hidup kita di tangan Tuhan.

Tuhan dapat kita temukan dalam diri setiap orang di antara kita dan kita bisa menjalin relasi yang lebih dekat lagi dengan Tuhan dalam doa-doa kita serta dalam ekaristi kudus. Dengan bisa mengenal Tuhan lebih dekat, semakin mudahlah tangan Tuhan menyentuh hati kita dan mampu mengubah segala kesusahan kita menjadi kegembiraan.

Fr. Albert Keavin Owen Wee

 

“…Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian? Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”(Luk. 9:9b).

 

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah kami untuk dapat melihat dan menemukan Yesus Putera-Mu dengan hati kami agar kami semakin disempurnakan di dalam iman kami kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini