“Kedekatan yang Menumbuhkan Iman”: Renungan, Jumat 23 September 2022

0
1376

PW S. Padre Pio dr Pietrelcina, Im (P)

Pkh, 3:1-11; Mzm. 144:1a, 2abc, 3-4; Luk. 9: 18-22

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Pada hari ini gereja memperingati peringatan wajib St. Padre Pio, seorang imam yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah. Imam yang terkenal karena hidupnya yang suci, sampai Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya dalam diri Padre Pio dengan memberinya stigmata yang serupa dengan Yesus. Tangan dan kakinya berlubang seperti luka-luka Yesus.

Kutipan dari kitab Pengkhotbah menggambarkan mengenai kenyataan yang berlangsung dalam hidup manusia. Segala sesuatu ada waktunya untuk terjadi entah itu tindakan jahat maupun baik. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Seluruh hidup manusia sudah diatur oleh Allah. Manusia membutuhkan iman untuk menghadapi setiap pengalaman yang terjadi dalam kehidupannya. Dengan iman, orang dapat menerima setiap pengalaman hidupnya sesulit apapun itu, dan senantiasa mensyukuri keberhasilan dan keberuntungan yang ia dapatkan.

Iman tentu tidak akan berkembang dan bertumbuh apalagi sampai berbuah, kalau orang tidak mendekatkan diri kepada Allah. Hanya melalui kedekatan dengan Allah yang memberikan segala sesuatu kepadanya, iman orang kemudian dapat tumbuh, berkembang dan berbuah. Tentang kedekatan dengan Allah sebagai syarat pertumbuhan iman seseorang, kita dapat melihat buktinya dalam diri rasul Petrus.

Dalam kutipan injil dikisahkan bagaimana Petrus, ketika mendengar pertanyaan Yesus: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, dengan penuh keberanian menjawab: “Mesias dari Allah”. Petrus tentunya mampu menjawab dengan berani, karena ia yakin dengan jawabannya. Keyakinannya tidak lepas dari pengenalannya yang mendalam akan pribadi Yesus. Pengenalan itu ia dapatkan hanya melalui kedekatannya dengan Yesus.

Kitapun diajak untuk menjalin hubungan yang akrab dan dekat dengan Yesus. Dengan kedekatan yang serupa dengan apa yang dijalin Petrus, kita bisa mencapai pengalaman yang mendalam akan Yesus. Dengan begitu kitapun akan mampu menumbuhkembangkan iman kita akan Allah. Dengan iman itu kita bisa menerima dan memandang setiap pengalaman hidup, yang baik maupun yang buruk, yang indah atau yang menyakitkan dengan penuh rasa syukur kepada Allah. Kita percaya bahwa sebagaimana yang dikatakan dalam kutipan dari kitab pengkhotbah, semuanya akan indah pada waktunya.

(Redaksi LJ)

“Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah”” (Luk. 9:20).

Marilah berdoa:

Tuhan, bawalah aku mendekat pada-Mu agar aku semakin mengenal-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini