Hari Biasa (H)
BcE 1Kor 10:14-22a; Mzm. 116:12-13,17-18; Luk 6:43-49
Jika Tuhan adalah Sumber Cinta, apa gunanya cinta saya bagi Tuhan? Jika Tuhan penuh dengan kemuliaan, apa gunanya saya memuliakan Tuhan? Jika Tuhan adalah sumber kebaikan, apa gunanya kebaikan saya di mata Tuhan? Jika Tuhan adalah Yang Mahasempurna, apa gunanya diri saya yang sungguh amat terbatas di mata Tuhan?
Paulus dalam bacaan hari ini berkata: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus?” dan juga “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Seluruh umat beriman, yang secara sungguh-sungguh mengimani kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus, dan mengambil bagian dalam perjamuan-Nya, merupakan bagian dari Tubuh Kristus. Sehingga, manusia mencintai Kristus bukan karena Kristus kekurangan cinta, manusia memuliakan Kristus, bukan karena Kristus kekurangan kemuliaan, dan manusia bersikap baik bukan untuk menyenangkan hati Kristus, melainkan itu merupakan konsekuensi dari penyerahan dan kerelaan diri untuk bersatu dengan Dia yang adalah sumber segala sesuatu.
Hal yang sama juga diungkapkan dalam bacaan Injil tentang pohon dan buahnya. “Karena tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya.” Sebab memanglah demikian bahwa akar, batang, cabang, daun, dan buah merupakan satu kesatuan. Satu unsur yang dapat kelihatan turut memperlihatkan unsur lain yang kelihatan ataupun tak kelihatan. Demikian pula manusia. Satu dengan Kristus berarti turut memiliki keutamaan-keutamaan Kristus. Cinta, kebaikan, kemuliaan, kesempurnaan yang ada dalam diri kita merupakan Pribadi Yesus sendiri. Dasarnya ialah Kristus.
Oleh karena itu, bukan persoalan bagaimana cinta, kebaikan, kesempurnaan, dan kemuliaan yang kita berikan untuk Tuhan, tetapi mampukah kita hidup menurut keutamaan-keutamaan itu? Mampukah cinta, kebaikan, kemuliaan Tuhan yang ada dalam diri kita, kita gunakan untuk mencintai sesama, menolong sesama, dan memuliakan sesama? Mampu atau tidak, tergantung seberapa dalam kita menggali fondasi bangunan kita agar tidak dirobohkan oleh air bah dan banjir. Caranya ialah, datang kepada Yesus, dengarkan Sabda-Nya, dan lakukan! Maka berdoa kepada Tuhan bukan hanya semata-mata untuk mencintai dan memuliakan Tuhan, tetapi meminta bantuan Tuhan untuk menguatkan keutamaan-keutamaan Tuhan yang telah Ia berikan kepada kita untuk kita laksanakan dalam hidup kita demi keselamatan kita.
(Fr. Andreas Masaroni)
“Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh…” (1 Kor. 10:17).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk hidup sesuai Firman-Mu. Amin











