Hari Biasa (H)
1Kor. 15:35-37,42-49; Mzm. 56:10,11-12,13-14; Luk. 8:4-15.
Saudara terkasih, kita bersyukur karena pada hari ini kita mendengar suatu tafsiran perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus sendiri, yakni arti dari perumpamaan tentang benih yang jatuh di tanah yang baik. Yesus dengan amat sederhana mengumpamakan benih yang adalah sabda Allah, yang jatuh di beberapa jenis tanah, dan yang berhasil tumbuh hingga berbuah hanyalah benih yang tumbuh di tanah yang baik. Tanah yang baik diartikan oleh-Nya sebagai orang yang mendengarkan sabda Allah, menyimpan sabda itu dengan baik dan akhirnya berbuah dalam ketekunan.
Terlepas dari arti perumpamaan itu, sebenarnya ada bagian teks yang mengganggu pikiran saya, yaitu “Kalian diberi karunia mengetahui kerajaan Allah, tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (ay. 10). Apa sebenarnya maksud Yesus dengan kata-kata demikian? Siapa itu kalian yang diberi karunia? Dan siapa itu orang lain dalam penggalan teks itu? Barangkali maksud Yesus tentang “kalian” adalah para rasul atau pengikut setia Yesus, dan “orang lain” itu adalah mereka yang hanya sekadar ikut tapi tidak sungguh-sungguh. Berarti dalam penggalan teks ini, Yesus secara radikal membagi dua jenis pengikut. Pertama, mereka yang mengikut dengan setia, tulus dan mau mendengarkan perkataan-Nya; dan kedua, mereka yang hanya sekadar hadir dan terlihat mengikuti Yesus tapi tidak dengan kesungguhan hati mengikuti-Nya. Oleh karena itu, sangat logis bila Yesus melontarkan kata demikian, bahwa mereka yang hanya setengah hati mengikuti-Nya, kendati memandang Dia, tapi tidak melihat ke-Allahan-Nya, dan sekalipun mendengar sabda-Nya, tapi tidak akan mengerti maknanya.
Nah, dari tafsiran dan refleksi di atas, kita dapat melihat dan mengoreksi diri masing-masing dengan bertanya: apakah saya masuk dalam golongan “mereka” yang diberi karunia? Ataukah malahan saya masuk dalam kalangan “orang lain” yang sekalipun memandang, tidak melihat, dan sekalipun mendengar, tidak mengerti. Marilah kita sadari bahwa sabda Yesus adalah benih unggul yang diberi secara cuma-cuma kepada kita semua. Maka kita seharusnya mampu menjadi lahan subur yang dapat menjamin kesuburan benih itu. Marilah kita bergerak menjadi orang yang mampu melihat dan mengerti Sabda Yesus, agar kita dapat masuk dalam kalangan orang yang diberi karunia oleh Yesus melalui sabda-Nya. Semoga demikian!
(Fr. Jo Lenunduan)
“Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah, …” (Luk. 8:10a).
Marilah berdoa:
Jadikanlah diriku lahan subur bagi benih Sabda-Mu, ya Tuhan. Amin.











