“Kesetiaan” Renungan, Jumat, 12 Agustus 2022

0
1548

Hari Biasa (H).

Yeh. 16:1-15,60,63 atau Yeh. 16:59-63; MT Yes. 12:2-3,4bcd, 5-6: Mat. 19:3-12.

Jack dan Phyllis pertama kali bertemu pada tanggal 4 Oktober. Keduanya bertemu di sebuah pesta dansa. Merasa tertarik dengan Jack, Phyllis mendekati dan mengajaknya berdansa. Setelah pesta malam itu, keduanya ternyata memiliki perasaan saling suka, sehingga mereka menjalin komunikasi yang intens. Enam belas bulan kemudian, keduanya mantap untuk mengucapkan janji suci.

Setelah 50 tahun menjalani kehidupan bersama, Phyllis dovonis mengidap penyakit demensia, yaitu suatu suatu penyakit penurunan fungsional yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak. Hal ini mengakibatkan penderitanya kesulitan untuk berpikir, mengingat dan berkomunikasi. Mengetahui hal tersebut, Jack tidak patah semangat dan terus mendampingi Phyllis. Beruntungnya, Jack terbiasa untuk menuliskan momen-momen bahagia yang dialaminya pada sebuah buku, termasuk semua kenangannya dengan sang istri. Setiap hari, Jack selalu mengunjungi sang istri dan membacakan catatan yang ia buat dan bahkan membawakan foto-foto kenangan ketika mereka bersama dulu, berharap istrinya dapat mengingat masa-masa indah yang dilalui bersama. Setiap kali Jack melakukan hal tersebut, Phyllis tersenyum dan seperti mengingat kembali kenangan tersebut meskipun ia lupa lagi. Kisah ini kemudian menyentuh banyak orang. Bahkan Ratu Elizabeth mengirimkan ucapan selamat kepada keduanya saat merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 70 pada tahun 2013 lalu.

Hari ini Injil berbicara tentang satu hal, yaitu kesetiaan. Berbicara tentang kesetiaan sama seperti kita bicarakan tentang sebuah pengorbanan sebab tidak ada kesetiaan tanpa pengorbanan. Tentu bahwa setia yang dimaksudkan di sini bukanlah setiap tikungan yang ada, tetapi setia yang dimaksud adalah perjuangan untuk tetap menghidupi komitmen yang telah dibentuk. Dalam perkawinan Gereja Katolik yang bersifat monogam dan indisolubiditas (tak terceraikan), kesetiaan adalah bahan bakar untuk mencapai tujuan dari sebuah perkawinan. Sebagai bahan bakar tentunya mutlak dibutuhkan untuk menggerakkan roda kehidupan sebuah keluarga. Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia).

Penegasan Yesus terhadap cobaan orang Farisi mengenai hal perceraian membukakan suatu cara pandang yang luhur tentang perkawinan. Sebab ketegaran hatilah yang seringkali membuat orang luput dari komitmen awal atas janji untuk sehidup dan semati dihadapan Allah. Kesetiaan, tidak hanya saat bahagia bersama. Ketika orang yang kita cintai tak lagi seperti dulu, atau bahkan hampir meninggal dunia, kita tak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Teruslah mencintai tanpa syarat, walau keadaan sudah tak lagi sama. Mungkin kondisi pernikahan sedang diguncang masalah, mungkin pasangan kita sedang menderita penyakit parah atau yang lain. Namun, belajar dari kisah pasangan Jack dan Phyllis, marilah kita senantiasa bersatu hati, berkorban bersama dan penuh perjuangan menjaga kesetiaan itu.

(Fr. Jessel Bastian Supit)

            Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat. 19:6)

Doa:

Allah Bapa yang Mahapengasih, buatlah aku bertumbuh subur dalam buah roh kesetiaan dan penuh pengorbanan memperjuangkannya sepanjang hidupku. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini