“Kebesaran dan Kesungguhan Iman”: Renungan, Rabu 3 Agustus 2022

0
1686

Hari Biasa (H)

Yer. 31:1-7; MT Yer. 31:10,11 – 12ab, 13; Mat. 15:21-28

Manusia sering meminta kepada Tuhan segala kebutuhan dalam hidup yang harus ia penuhi. Konkritnya seperti meminta supaya bisa mendapat pekerjaan yang berkelas, mendapat rumah yang mewah, mendapat hubungan keluarga yang spesial dan harmonis dan masih banyak lagi. Alhasil, Tuhan mengabulkan permohonannya. Tetapi sewaktu manusia meminta harta yang melimpah, kesehatan yang tak ada batas dan hidup yang di atas standar manusia pada umumnya namun Tuhan tidak mengabulkannya, apa jawaban balik dari manusia? Kemarahan manusia melonjak, menganggap Tuhan itu egois, bahkan sampai pada pernyataan bahwa Tuhan itu jahat!

Bacaan Injil hari ini juga seakan-akan menggambarkan bahwa Tuhan Yesus itu jahat. Tidak ada respon dari Tuhan Yesus. Ia tidak menghiraukan perempuan Kanaan yang memohon kepada-Nya supaya anaknya bisa sembuh dari kerasukan setan. Dia sama sekali tidak menjawabnya. Sama halnya dengan para murid-Nya yang tidak menghiraukan perempuan Kanaan itu. Bahkan mereka sendiri meminta Yesus supaya Dia menyuruh wanita itu pergi.

Berangkat dari peristiwa demikian, apakah perempuan itu akan marah pada Yesus? Atau menganggap Yesus itu egois? Bahkan sampai mengatakan kepada Yesus bahwa Dia adalah orang jahat yang bahkan hanya mau “melayani domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Tentu tidak. Perempuan Kanaan tahu bahwa jika ia tidak yakin dengan permintaannya, pasti rahmat kesembuhan tak diperoleh. Jika ia tidak yakin dengan imannya, Ia merendahkan dirinya sembari menyuguhkan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Yesus supaya sekali lagi dapat menyembuhkan anaknya dari penderitaan. Alhasil karena iman yang besar, anak dari perempuan Kanaan ini sembuh.

Belajar dari perempuan Kanaan yang terus meyakinkan dirinya dengan memohon tanpa batas kepada Yesus, kita juga harus benar-benar menunjukkan kerendahan hati dan diri. Yesus selalu menguji kita jikalau kita tidak percaya dan merendahkan diri, menganggap semua bisa dilakukannya sendiri. Dia tidak sembarang menguji kita. Dia menguji kita supaya kita menampilkan kebesaran dan kesungguhan iman kita. Iman mampu menyelamatkan kehidupan kita. Sama seperti Bacaan Pertama yang kita refleksikan hari ini. Tuhan akan mengasihi dengan kasih yang kekal. Dia menampilkan kasih yang tak terbatas kepada kita semua sama seperti bangsa Israel. Semoga kita tak henti-hentinya mencari keselamatan itu dengan sungguh-sungguh dengan selalu menampilkan kebesaran dan kesungguhan iman kita

(Fr. Dirros Pugon)

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh(Mat 15:28).

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukan dan kuatkanlah imanku, agar apa yang aku minta  pada-Mu bukan karena keegoisanku melainkan meminta karena imanku yang ada kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini