“Melayani dengan Kasih”: Renungan, Kamis 07 Juli 2022

0
1446

Hari Biasa (H)

Hos. 11:1b,3-4,8c-9; Mzm. 80;2ac,3b,15-16; Mat. 10:7-15.

Melayani merupakan suatu tindakan untuk membantu orang lain, misalnya dengan memberi makan kepada sesama yang berkekurangan. Dalam hidup pun, kita tahu bahwa tindakan melayani orang lain merupakan suatu perbuatan mulia. Namun terkadang kita tidak mau melakukannya. Padahal jika kita dengan sungguh-sungguh melakukan tugas pelayanan dalam hidup kita setiap hari, entah sebagai pejabat negara, atau pejabat gereja dan lainnya, semuanya itu merupakan suatu berkat dan akan membawa kegembiraan atau sukacita bukan saja kepada orang yang dilayani, tetapi juga kepada diri kita sendiri.

Injil hari ini mengisahkan tentang bagaimana Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Namun mereka juga diberikan mandat untuk melayani setiap orang yang membutuhkan mereka, dengan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan yang merasuki diri manusia. Tindakan-tindakan inilah yang merupakan suatu tindakan pelayanan. Sebab yang mendasari pelayanan itu sendiri adalah kasih.

Bacaan pertama juga mengisahkan tentang Allah yang setia melayani Israel dengan penuh kasih sayang. Sekalipun bangsa Israel selalu menjahati Allah, namun Dia selalu memelihara mereka. Kasih sayang Allah sendiri, terungkap dalam tindakan-Nya, dengan memberi makan. Allah selalu memberkati dan melayani Israel dalam kesusahan.

Allah mengungkapkan kasih-Nya dalam wujud nyata, di mana Allah selalu memberikan kepada Israel apa yang dibutuhkan. Sehingga dalam Mazmur, terdengar pujian syukur dari Israel keselamatan Allah yang berbunyi: “Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah”. Tampaknya, Israel bersyukur atas keselamatan serta pemeliharaan Allah atasnya.

Oleh karena itu, sebagai manusia yang lemah, janganlah malu untuk saling melayani satu dengan yang lain. Tindakan melayani merupakan satu perbuatan yang mudah dan mulia. Jadi janganlah kita malu untuk saling melayani terhadap sesama. Sebab, kita semua dipanggil oleh Allah untuk melayani.

Terlepas dari status atau jabatan tertentu, kita pun diajak untuk saling melayani tanpa pandang buluh. Sebab, jika Allah selalu melayani kita, dengan memudahkan segala persoalan hidup yang kita alami, lalu apakah kita tidak saling melayani sesama kita yang membutuhkan kita?

Janganlah kita malu untuk melayani sesama. Tetapi malulah, jika orang lain yang melayani saudara kita yang membutuhkan dan kita hanya berdiri sebagai penonton. Oleh sebab itu, jangan pernah malu untuk melayani, karena kita hidup di dunia ini memang seharusnya untuk saling melayani sesama.

(Fr. Kristianus Batlayeri)

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.” (Mat.10:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami dapat meneladani sikap pelayanan-Mu bagi sesama kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini