“Kasih Allah Tak Berkesudahan”: Renungan, Kamis 21 Juli 2022

0
2827

Hari Biasa (H)

Yer. 2:1-3,7-8,12-13; Mzm. 36:6-7ab,8-9,10-11; Mat. 13:10-17.

Kasih Allah selalu melimpah dalam kehidupan kita umat-Nya. Tetapi tanggapan kita terhadap kasih Allah itu acapkali tidak sejalan dengan apa yang diharapkan oleh Allah. Dalam bacaan pertama, kita dapat melihat bagaimana tanggapan umat Israel terhadap kasih Allah itu.

Pada awalnya umat Israel sangat mengasihi Allah dan hidup menurut hukum yang telah ditetapkan-Nya. Dikisahkan bahwa Allah menghantar umat Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir melalui padang gurun yang gersang. Di sana Allah mencukupi semua kebutuhan mereka baik makanan dan minuman untuk bertahan hidup.

Namun apa tindakan mereka sejak dari padang gurun sampai mereka tiba di tanah yang sudah dijanjikan Allah? Umat Israel tidak setia lagi kepada Allah. Mereka menyembah alah-alah lain dan berpaling dari Allah sebagai sumber kehidupan mereka.

Pengalaman umat Israel dalam beriman kepada Allah adalah proses mengenal kasih Allah yang selalu nyata dalam kehidupan mereka, meskipun terkadang mereka tidak setia kepada Allah namun toh Allah tetap setia dan tidak membiarkan mereka binasa.

Dalam Injil Yesus mengajar dengan perumpamaan tentang seorang penabur. Hal itu menimbulkan pertanyaan spontan dari para rasul: Mengapa Yesus harus mengajar dengan menggunakan perumpamaan? Namun, Yesus menjawab mereka: “Kalian diberi karunia untuk mengetahui Kerajaan Surga, tetapi orang-orang lain tidak. Karena barangsiapa mempunyai akan diberi lagi, tetapi barangsiapa tidak mempunyai, maka apa pun yang ada padanya akan diambil”.

Hal ini mau menegaskan bahwa kasih karunia Allah itu senantiasa ada dalam kehidupan manusia, tetapi manusia tidak menyadari kasih karunia Allah yang besar itu. Ketegaran hati manusia sangat jelas dan nampak. Mereka menolak Yesus kendati mereka sendiri telah melihat dan mendengarkan pewartaan-Nya. Mereka tetap tidak percaya karena hati mereka telah tebal dan mata mereka tertutup terhadap kasih Allah itu.

Kasih yang diberikan Allah itu tidak pernah berkesudahan. Allah tidak pernah lelah untuk membuat umat-Nya mengerti bahwa Ia selalu menyertai mereka. Manusia diajak untuk mengenal kasih-Nya serta merubah tingkah laku dari yang jahat dan tegar hati menuju kepada kebaikan sejati di dalam Allah. Oleh karena itu, hendaknya kita memiliki hati yang bersih dan niat yang murni agar kita disempurnakan dan memiliki keselamatan abadi.

(Fr. Paternus Trio Wee)

“Siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.” (Mat.13:12a)

Marilah berdoa:

Kepada-Mu, ya Tuhan, kuarahkan hati dan jiwaku sehingga aku mengalami kasih-Mu yang nyata. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini