“Kasih akan Allah dan Sesama” : Renungan, Minggu 10 Juli 2022

0
1343

Hari Minggu Biasa XV (H)

Ul. 30 :10-14 ; Kol. 1 : 15-20 ; Luk. 10 : 25-37

Kristus memberikan perintah bagi manusia untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Mengasihi Allah dan mengasihi manusia bukanlah perkara mudah dan sederhana. Dari dua hal ini, prioritas utama bagi kita adalah mengasihi Allah kemudian mengasihi sesama.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jalan untuk mencapai keselamatan adalah dengan menaati hukum Tuhan. Kesepuluh perintah Allah yang diberikan kepada Musa hendak menyampaikan bahwa hukum kodrat sudah Tuhan tanamkan dalam hati nurani manusia. Hati nuraninya akan menuntun orang untuk tiba pada kesimpulan bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau benar. Itulah mengapa Musa memanggil dan mengingatkan segenap orang Israel untuk mendengarkan suara Tuhan dan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya. Jika ia berdosa maka ia harus berbalik kepada Allah dengan segenap hati dan jiwa. Sebab Sabda Allah itu tidak jauh dari manusia, tidak perlu naik ke langit atau menyeberangi lautan, namun sangat dekat pada kita yakni dalam mulut dan hati kita.

Maka kita mengetahui bahwa ‘pekerjaan’ kita di dunia ini adalah mengasihi Tuhan. Pertanyannya mengapa kita mesti mengasihi Tuhan? Jawabannya karena kita menemukan kebahagiaan di dalam kasih kepada Tuhan. Kebahagiaan sejati hanya mungkin dialami dan dirasakan di dalam Tuhan. Banyak orang terlena dengan kenikmatan duniawi, sehingga lupa mengasihi Allah. Kekerasan dan kejahatan dapat menjadi makanan sehari-hari, karena hidup jauh dari Allah. Sebaliknya, mereka yang setia pada hukum dan perintah-Nya serta mengasihi Allah menikmati kebahagiaan dalam kehidupannya.

Penginjil Lukas memberikan gambaran bagaimana mengasihi Allah dan sesama melalui kisah Orang Samaria yang Murah Hati. Orang Samaria diidentifikasikan sebagai Yesus dan orang yang dirampok sebagai Adam yang mewakili kita manusia yang berdosa. Karena belas kasih Allah, Kristus datang ke dunia untuk menyembuhkan luka-luka manusia akibat dosa. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menegaskan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Dia adalah yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan. Oleh Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka jelaslah, kedosaan manusia ditebus oleh Kristus lewat misteri paskah-Nya, agar semua orang dibangkitkan dari kematian dan diselamatkan. Ia memperdamaikan segala sesuatu, baik di bumi maupun di surga, berkat darah Salib-Nya.

Kisah Orang Samaria yang Murah Hati ini mungkin saja diajarkan oleh Yesus untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada pada waktu itu, di mana orang lebih menghindari diri terhadap apa yang disebut dengan hal yang najis. Imam dan orang suku Lewi itu tidak yakin bahwa orang yang terluka itu hidup atau mati, maka mereka menghindariya karena menganggap orang itu akan mati. Mereka menghindarinya agar tidak dianggap najis. Namun Yesus mengajarkan bahwa hukum kasih berada di atas segalanya, dan di atas segala hukum ritual, sebab justru di dalam kasih kepada sesamalah seseorang dapat menyatakan kasihnya kepada Tuhan.

Dapat dikatakan bahwa Orang Samaria yang Murah hati memberi arti bagi kita untuk menjadi pribadi yang membawa keselamatan bagi orang lain dalam hidup harian kita dengan perbuatan kasih kepada Allah dan sesama.  Perbuatan kasih terbagi secara rohani antara lain, membantu sesama menuju pertobatan, mengajar mereka yang tidak tahu, menguatkan mereka yang ragu-ragu, menghibur yang berduka, menerima kesalahan orang lain dan mengampuninya, mendoakan mereka yang masih hidup dan sudah meninggal dunia. Sementara perbuatan kasih secara jasmaniah menuntut orang untuk memberi makan mereka yang kelaparan, memberi minum bagi mereka yang haus, memberi pakaian bagi mereka yang telanjang, memberi tumpangan bagi mereka yang tidak punya rumah, mengunjungi orang sakit, mengunjungi mereka yang ada dalam tawanan, dan menguburkan orang yang meninggal dunia. Demikianlah kasih kepada Allah dan sesama menghantar kita kepada keselamatan kekal.

(Fr. Yanto K. Kansil)

“Pergilah dan Perbuatlah demikian.”  (Luk 10 :37b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan ajarlah kami untuk mampu mengasihi-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini