“Menjadi Anak Allah? Siapa Takut”: Renungan, Jumat 27 Mei 2022

0
1708

Hari Biasa Pekan VI Paskah (P)

Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a

Ada sebuah pepatah Latin yang mengatakan: “Si Deus pro nobis quis contra nos?”, yang berarti “Jika Allah di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita?”. Pepatah ini hendak menegaskan kemahakuasaan Allah sebagai pencipta atas seluruh makhluk hidup yang ada di atas bumi. Terutama manusia yang diangkat menjadi anak-anak Allah. Namun, apakah manusia sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah? Syarat apa yang membuat seseorang dapat menjadi anak Allah? Oleh karena itu, manusia perlu bercermin dari pribadi Yesus, sebab DIA sendiri adalah Anak Allah yang Maha Tinggi. Hidup layaknya Yesus tidaklah mudah, karena seperti Yesus yang selalu mendapat perlawanan dari dunia ini, kita pun demikian. Hidup seperti Yesus berarti harus siap menderita dan tahan terhadap perlawanan dunia, serta siap memikul salib masing-masing.

Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan melalui sabda perkataan-Nya: “sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”. Demikian jelas ditunjukkan sebuah konsekuensi dari kenyataan diri sebagai anak-anak Allah, yang mana siap untuk menderita karena oleh ragamnya penolakan dari dunia. Seseorang harus siap dikucilkan atau tidak dipandang demi melakukan kebaikan. Memang orang lain yang menyukai perbuatan jahat akan senang melihat orang yang baik menderita. Akan tetapi, sebagai anak-anak Allah, manusia tidak perlu khawatir, karena kebenaran selalu berada pada jalan kebenaran (jalan Allah). Oleh karena itu, menjadi anak-anak Allah sesungguhnya membuat manusia tidak perlu merasa cemas dan ragu. Bahkan, kendati selalu berhadapan dengan penolakan dunia yang menjadi beban penderitaan, namun kelak penderitaan akan berbuah menjadi kebahagiaan kekal, oleh karena predikat diri sebagai anak-anak Allah.

Rasul Paulus dalam bacaan pertama memberi teladan dan semangat yang baik agar tidak perlu merasa takut menjadi anak-anak Allah. Paulus menjadi salah satu dari anak-anak Allah, dengan melakukan apa yang diajarkan oleh Yesus, yaitu dengan terus mewartakan kebenaran Injil. Meskipun Paulus dihadapkan pada penolakan dunia dengan diadili dan dibenci orang-orang, namun ia dibebaskan karena ia tetap berpegang pada kebenaran dan dipakai oleh Allah. Bercermin dari diri Paulus, kita pun harus menjadi perpanjangan tangan Tuhan serta melepaskan diri dari belenggu dunia yang sifatnya sementara, serta menjadi lebih berani karena kita semua diangkat menjadi anak-anak Allah.

(Fr. Prawian Kristianus Bea)

“Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh 16 : 20).

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, bimbinglah kami agar senantiasa menjadi anak-anakMu yang setia.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini