Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet (P)
Zef 3:14-18 atau Rm 12:9-16b; Luk 1:39-56.
Siapa yang tidak senang ketika dikunjungi oleh orang yang kita cintai atau idolakan. Apalagi kalau tanpa disangka rumah kita dikunjungi oleh Mgr. Rolly, Uskup Manado atau Pak Jokowi, presiden kita. Tentu kita akan merasa gembira dan bersyukur karena mendapat kesempatan kunjungan spesial tersebut.
Hal inilah yang tampak pada bacaan Injil hari ini yang mengisahkan bagaimana dengan penuh kerendahan hati, Maria kendati sementara mengandung, kendati dari kejauhan, mau datang untuk mengunjungi Elisabet, saudarinya. Sontak Elisabet sangat berbahagia karena tanpa disangkanya, ia dikunjungi oleh ibu Tuhan. Inilah perwujudan dari kasih yang sesungguhnya dengan saling mengasihi sebagai saudara sebagaimana pesan rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang telah terungkap lewat kunjungan sebagaimana yang telah diperbuat Maria.
Sesampainya di rumah Elisabet, Maria memberikan salam dan sapaan persaudaraan. Suatu tindakan sederhana yang memiliki arti yang mendalam. Sebuah salam yang menghangatkan, mencairkan suasana serta menguatkan. Di saat itu pula, muncul pengakuan dari tutur kata Elisabet bahwa dari rahim Maria akan lahir sosok Sang Penyelamat, Tuhan.
Maka sesungguhnya Maria menjadi sosok yang sangat berbahagia karena Allah begitu mencintai dan memerhatikannya. Untuk itu, Maria bersyukur atas rahmat tersebut yang diungkapkannya lewat nyanyian pujian. Artinya, Maria sungguh menyadari bahwa kendati ia hanya seorang hamba tetapi kasih Allah begitu besar, sehingga menganugerahkan rahmat besar kepadanya, sehingga ia patut menerimanya dengan sukacita.
Maka melalui bacaan hari ini kita diajak: Pertama, terus hidup berlandas pada cinta kasih sebagaimana yang diteladankan Maria, misalnya, dengan mengunjungi sesama kita yang berkesusahan dan berkekurangan. Dengan demikian, kehadiran kita akan membawa arti dan aura positif dalam hidup mereka.
Kedua, rajinlah dan jangan sungkan memberi salam dan menyapa orang lain, entah siapa dia. Menyapa itu tidak mahal, hanya dengan mengucapkan kata-kata dari mulut. Sebab dengan menyapa berarti kita telah peduli dengan orang yang ada di sekitar kita, sekaligus menghargai mereka sebagai sesama, sebaliknya mereka yang menerima salam akan merasa dihargai.
Ketiga, berani mengungkapkan pengakuan iman dimana saja kita berada. Artinya, kita diminta untuk tampil apa adanya dengan pengakuan iman yang diyakini sesuai dengan identitas kita yang sesungguhnya. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”.
(Fr. Itho Silap)
“Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, doronglah kami untuk selalu siap mengunjungi sesama yang membutuhkan. Amin.











