“Persatuan Abadi”: Renungan, Sabtu 9 April 2022

0
1953

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11-12b,13; Yoh. 11:45-56.

Persatuan yang sejati merupakan sebuah doa dan harapan Yesus kepada semua murid-Nya yakni Ut Omnes Unum Sint. Hal ini bukan hanya sebuah ungkapan puitis dan sebatas quotes keren, tetapi sebuah penegasan. Ini juga yang Yesus harapkan dari umat-Nya. Bacaan-bacaan hari ini menekankan akan persatuan dalam Tuhan yang Ia akan anugerahkan kepada umat-Nya. Pertama, dalam Nubuat Nabi Yehezkiel jelas ditekankan “Tuhan Allah berfirman: Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel dan satu orang raja memerintah seluruhnya … mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana semua keturuannya akan tinggal di sana selama-lamanya”. Kedua, Nabi Yeremia bernubuat bahwa: “Dia yang telah menyerahkan Israel akan mengumpulkannya kembali dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!”. Ketiga, Penginjil Yohanes dalam tulisannya menegaskan bahwa “Yesus akan mati untuk seluruh bangsa; bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.” Ketiga bacaan Kitab Suci ini menegaskan tiga hal yakni Allah akan mempersatukan semua bangsa, kedua, menyatukan mereka di dalam Tanah yang dijanjikan-Nya yakni Surga dan ketiga, Tuhan Allah akan menjadi raja dan gembala atas mereka di mana kebahagiaan dan kesejahteraan abadi dianugerahkan.

Perwujudan persatuan bukan hanya sebuah wacana belaka tapi sebuah usaha nyata yang harus diusahakan untuk dilakukan. Perwujudan persatuan pertama-tama dinyatakan melalui sikap solidaritas dan pengorbanan diri secara total. Solidaritas dinyatakan melalui relasi antar sesama begitu pula dengan pengorbanan. Solidaritas dan pengorbanan yang sejati telah dinyatakan Yesus sendiri. Ia kelak akan menanggung hukuman mati di salib demi keselamatan dan agar manusia disatukan dalam cinta Ilahi. Dalam Dia telah dinyatakan persatuan abadi dalam cinta akan Allah dan manusia. Karena cinta-Nya akan dunia ini sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal. Persatuan umat menjadi nyata dalam sengsara, wafat dan kebangkitan, juga dalam darah dan air yang mengalir dari lambungnya. Dengan demikian, pengorbanan-Nya menyatukan surga dan bumi. Maka dari itu, mari belajar dari Yesus sendiri yang mengorbankan diri demi umat manusia agar semua umat bersatu sebagai umat Allah yang hidup dalam iman, harap dan kasih.

(Fr. Stevan Lerebulan)

“Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh. 11:51b-52)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, persatukanlah kami dalam cinta dengan Dikau dan sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini