“Pentingnya Kesadaran”: Renungan, Rabu 6 April 2022

0
1740

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

Dan. 3:14-20,24-25,28; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; Yoh. 8:31-42.

Ada begitu banyak pengalaman dalam hidup manusia, ia dapat memilah-milah segala peristiwa yang dialaminya itu. Dalam hal ini, akal budi membantu manusia untuk mengerti tentang peristiwa yang dialaminya dan menjadikan itu sebagai pelajaran hidup kedepannya. Akan tetapi, tak jarang orang mengabaikan pengalaman-pengalaman tersebut sehingga ia tetap berada pada situasi yang sama. Tak banyak orang yang sadar akan perbuatan-perbuatannya dan berubah menjadi lebih baik.

Bacaan Injil hari ini menggambarkan tentang bagaimana sikap angkuh dari bangsa Yahudi. Mereka dengan bangganya menyebut diri mereka sebagai keturunan Abraham. Sebagai keturunan Abraham mereka menganggap bahwa mereka merupakan orang-orang yang benar, orang-orang yang sudah merdeka.

Kepada mereka, Yesus menyebut ukuran apa yang harus dipakai agar orang-orang itu dapat disebut sebagai orang-orang merdeka. Mereka yang telah merdeka dalam iman dan kebenaran ialah mereka yang telah terlepas dari perbudakan dosa. Jadi, siapa saja yang masih berbuat dosa, masih merupakan hamba dosa dan ia belumlah merdeka. Dalam hal ini Yesus mencoba membentuk kesadaran dari orang-orang Yahudi tersebut agar tidak tenggelam pada situasi dan kondisi yang sama melainkan keluar dari paradigma mereka tersebut. Cara hidup yang begitu terpaut pada aturan adat-istiadat maupun hukum Taurat membuat sehingga pikiran mereka menjadi sempit dan tak mampu melihat “Sang Kebenaran Sejati” yang ada di tengah-tengah mereka. Mereka menganggap apa yang mereka perbuat itulah yang paling benar sehingga mata mereka menjadi tertutup untuk melakukan apa yang Yesus ajarkan pada mereka. Mereka menyebut diri mereka sebagai anak-anak Allah namun tak mampu mengasihi dan mendengarkan Yesus yang adalah Putra Tunggal Allah.

Melalui bacaan Injil pada hari ini, kita diajak untuk melihat pengalaman-pengalaman hidup kita. Apakah kita masih terjebak pada situasi dan kondisi yang sama, ataukah kita telah bergerak maju dan hidup sebagai orang-orang yang telah merdeka. Kita diajak agar melepaskan diri dari perbudakan dosa agar kita sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang merdeka di dalam Allah. Selain itu, bacaan pertama mengajak kita untuk sadar penuh dan sungguh-sungguh percaya pada kemahakuasaan Allah, seperti iman yang dimiliki oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang siap disiksa demi tidak mengkhianati Allah.

(Fr. Filbert O. C. Ngafrehen)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yoh. 8:34)

Marilah Berdoa:

Tuhan, bukalah hati dan pikiranku agar aku mampu tahan terhadap godaan dan melepaskan diri dari kecenderungan berbuat dosa, sehingga aku dapat menjadi pribadi yang merdeka. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini