“Pengampunan tanpa syarat” Renungan: Senin, 4 April 2022  

0
1914

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

Dan. 13:41c-62 (singkat); Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11.

Tanggal 13 Mei 1981 merupakan hari yang tak akan dilupakan umat Katolik sedunia. Saat itulah Paus Yohanes Paulus II ditembak di lapangan St Petrus, Vatikan. Pelakunya adalah Mehmet Ali Agca, seorang residivis asal Turki yang menembak beberapa kali ke arah Paus Yohanes Paulus II. Pengadilan memutuskan Ali Agca bersalah dan kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Setelah mengetahui Ali Agca bebas dari dipenjara, bukan mencela, Paus Yohanes Paulus II sebaliknya meminta umat Katolik mendoakan Ali dan bahkan memaafkan perbuatan Ali itu.

Hari ini Injil menceritakan kisah tentang perempuan yang berzinah. Para ahli taurat dan orang Farisi hendak menghakimi dan bahkan merajam perempuan yang kedapatan berzinah itu. Namun, hal tak terduga terjadi ketika mereka memperhadapkannya di depan Yesus. Bukan menghakiminya, Yesus malah memberikan pengampunan baginya. Dalam konteks ini, penghakiman tidak hanya dilakukan sebagai reaksi spontan atas tindak kejahatan (dosa) tetapi juga semakin menemukan motifnya yang suci yakni sebagai usaha pembelaan atas tegaknya hukum Taurat. Dengan kata lain, menyiksa si pendosa sampai mati adalah suatu kebenaran seturut hukum, tetapi pada masa itu hal semacam ini tidak sesuai hukum sipil Romawi.

Cerita serupa pun terlukiskan dalam kisah Daniel ketika menyelamatkan Susana, istri Yoyakim yang hendak dibunuh akibat tuduhan berzinah. Kisah-kisah ini hendak mengatakan bahwa: Allah sebenarnya mengetahui segala persoalan itu, bahkan lebih dalam, yaitu bahwa persoalan moralitas tersebut dibawa oleh mereka yang hendak menjatuhkan hukuman adalah juga orang-orang yang berdosa. Mereka merasa diri orang benar dan hanya bisa melihat serta menilai kekurangan dan kesalahan orang lain, kemudian menghakimi.

Ampunilah tanpa syarat! Tindakan ini tidak hanya merupakan sebuah “model” bagi kita, melainkan juga menunjuk pada pribadi Yesus yang tidak pernah menyangkal Bapa-Nya atau berupaya untuk melindungi diri-Nya dari suatu kebenaran palsu, rasa sakit maupun penderitaan. Sebesar apapun kesalahan orang lain terhadap kita, kita tidak serta-merta langsung main hakim sendiri terhadap mereka. Yesus mengampuni bahkan mereka yang memusuhi dan melawan diri-Nya. Karena itu, marilah dalam masa prapaskah ini kita belajar untuk senantiasa mengampuni sesama yang berbuat salah, agar kita semua dapat menjadi layak dan pantas untuk menyambut Paskah Kristus.

(Fr. Jessel Bastian Supit)

“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh. 1:11)

Marilah berdoa:

Allah yang Maharahim, biarkanlah imanku bertumbuh di dalam Engkau, sehingga aku dapat mampu untuk mengampuni sesamaku. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini