Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)
Yer, 11:18-20; Mzm, 7:2-3.9b-10.11-12; Yoh, 7:40-53
Dalam dunia dewasa ini, kita sering melihat, mendengar atau bahkan mengalami sendiri praktek-praktek rasisme atau praktek mengkerdilkan daerah, status sosial, atau bahkan pribadi-pribadi tertentu, hanya karena dianggap lemah, lebih rendah atau bahkan hanya karena tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Praktek-praktek sedemikian bahkan telah menjadi hal lumrah yang sering terjadi di lingkungan sekitar kita. Bahkan secara tidak sadar, kita mungkin pernah terlibat di dalamnya dan menjadi pelakunya.
Bila dilihat secara lebih mendalam, ternyata perilaku dan kebiasaan demikian bukan saja baru dimulai di masa modern ini. Sebab pada kenyataannya, perilaku demikian telah mengakar lama dalam tataran hidup di zaman Yesus. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas pada Injil hari ini, dimana ketika Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Mesias, Putera Allah, ada sebagian orang yang turut mengakui-Nya. Tetapi ada pula sebagian lain yang menentang-Nya. Mereka menganggap bahwa orang seperti Yesus tidak mungkin adalah Dia yang dijanjikan Tuhan. Terutama bila dilihat dari latar belakang-Nya dan dari gambaran umum bangsa Israel mengenai sosok Mesias yang didambakan, Yesus tidak termasuk dalam kriteria tersebut dan karena itu, mereka mulai mengejek dan memandang rendah Yesus. Bagi mereka, seturut yang tertera dalam Kitab Suci, menjadi jelas bahwa Mesias tidak pernah datang dari Galilea. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menolak-Nya bahkan berusaha untuk menangkap dan menghukum Yesus.
Penolakan mereka ini selain merupakan bentuk dari kurangnya pengenalan mereka akan pribadi Yesus. Tetapi juga lebih-lebih karena sosok Mesias yang mereka harapkan tidak ada dalam diri Yesus Kristus. Akhirnya, mereka kecewa dan berusaha untuk menolak-Nya. Inilah perilaku lumrah yang bukan hanya terjadi pada masa Yesus tetapi juga masih terus bertumbuh hingga saat ini. terkadang kita terlalu memaksakan kehendak kita terhadap segala sesuatu yang ada di luar kendali kita. Akibatnya malah berujung pada rasa marah dan kecewa. Itulah yang menjadi sikap manusia, Oleh karena itu, melalui masa Prapaskah ini, marilah kita berbenah diri dan menyandarkan segala usaha kita hanya kepada Tuhan, Sang pengharapan yang sejati.
(Fr. Valen Helyanan)
Apakah engkau juga orang Galilea? (Yoh, 7:52)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, Allah kami, melalui masa pertobatan ini, kami mohon bukalah mata hati kami agar dapat berlaku adil terhadap sesama dengan mampu menghadirkan kasih-Mu kepada semua orang. Amin.











