“Hari ini juga engkau berada di Firdaus” : Renungan, Minggu 10 April 2022

0
2419

Hari Minggu Palma (M)

Yes. 50: 4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2: 6-11; Luk. 22: 1-49.

Di antara kaum beriman terdapat pelbagai gambaran tentang Firdaus. Ada yang bercorak materialistik dan hedonistik: sebagai tempat kepuasan dan kenikmatan yang memenuhi semua hasrat dan keinginannya; ada juga yang bercorak spiritual dan gnostisistik: mengenal Allah yang benar dan memandang kemuliaan-Nya secara langsung (visio beatifica), serta hidup bersama-Nya untuk selamanya.

Kata firdaus itu sendiri akarnya dari kata Persia tua pairidaêa artinya ‘taman yang dipagari’ yang dalam bahsa Ibrani KS menjadi pardes dan dalam versi Yunaninya menjadi paradéisos menunjuk ‘taman di Eden’ tempat manusia hidup berbahagia dalam kasih Allah Penciptanya. Apapun gambarannya, firdaus pada hakikatnya adalah kepenuhan hidup dalam kebahagiaan, sukacita, kasih sayang yang menjadi panggilan dan harapan hidup orang-orang yang benar.

Injil Lukas dalam Kisah Sengsara Yesus Kristus, menceriterakan interaksi antara Yesus yang tersalib dan dengan kedua penjahat yang disalibkan di kiri dan kanan-Nya.  Kepada si penjahat pencemooh Yesus tidak mengatakan apapun. Sebaliknya kepada penjahat yang menyatakan iman dan harapannya kepada Yesus sebagai Mesias, penjahat yang bertobat, Yesus mengatakan kata-kata berikut: “Sekarang ini juga engkau ada bersama-Ku di dalam Firdaus” (Luk. 23: 43). Yesus yang tersalib menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk mencari orang benar, tetapi orang berdosa. Ia telah tersalib di antara para penjahat agar mereka mengalami kasih Allah yang dapat membebaskan,   setiap orang percaya, dari belenggu kejahatan dan dosa yang membinasakan.

Bersama Yesus yang tersalib, ternyata ada juga orang yang tetap bertegar hati dalam kejahatannya, dan mengejek kebaikan Allah. Namun ada juga penjahat yang menjadikannya saat yang menentukan untuk bertobat dan mendekatkan diri pada rangkulan kasih Allah. Mereka berani bertobat dan menaruh harapan hidupnya pada belas kasih Allah yang tersalib bersamanya.

Bertobat merupakan keputusan dan tindakan seorang pendosa untuk berserah diri pada kuasa kasih Allah dapat mengubah hidupnya menjadi benar. Kasih Allah berkuasa  mengubah seorang penjahat yang bertobat menjadi sahabat Yesus dan penghuni Firdaus.

Menurut kehendak dan rencana Allah, Firdaus disediakan bagi semua orang. Tanpa batas dan tanpa prasyarat suku, ras, gender, golongan dan agama, semua dipanggil menjadi sahabat Allah dan hidup berbahagia bersama-Nya. Problemnya ialah, ternyata ada juga orang yang tidak mau menerima kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Orang cenderung hidup menurut keinginan hati dan hawa nafsu dagingnya sehingga menjadi tidak benar dalam hidupnya. Ada yang menjadi pendusta, penipu, pencuri, pencabul, pembunuh, penyembah berhala dan  penyihir. Ada orang yang merasa nyaman dengan kebatilan, aib dan kejahatan, sehingga menyimpang jauh dari rencana dan jalan Allah dan bertegar hati dalam kejahatan dan dosa.

Dalam kenyataan hidup, ada orang yang berani bertekun dan setia pada rencana dan kehendak Allah. Mereka bertahan di jalan kebajikan walaupun harus hidup dengan susah payah dan mengalami banyak tantangan, aniaya dan penderitaan. Sebaliknya ada juga sejumlah orang yang berjanji untuk taat dan setia kepada Allah, mengucapkan sumpah dan menandatangani fakta integritas ditempat kerja, namun dalam praktiknya lebih menyukai jalan dusta dan kejahatan dari pada jalan kebenaran dan kebaikan. Ada yang menjadi pembuat masalah dan kekacauaan dalam hidup bersama, menjadi problems dan troubles makers. Sehingga membuat kehidupan keluarga, umat dan masyarakat makin jauh dari Firdaus yang diidamkan, bahkan menjadikan hidup bersama bagaikan neraka jahanam. Anggota keluarga, umat dan masyarakat hidup seperti manusia celaka. Bersama Paulus dari Tarsus banyak yang bertanya: siapa yang dapat menyelamatkan kita, aku dan engkau dari keadaan celaka ini?

Syukur kepada Allah hari ini manusia dapat menyaksikan kesediaan Allah hadir dan berjuang serta berkorban jiwa raga-Nya untuk manusia dalam aniaya, sengsara dan kematian. Hanya Dialah yang mampu, mau dan bersedia menyelamatkan manusia dan mengembalikan manusia di jalan rencana dan kehendak-Nya. Hanya satu hal yang Dia minta, agar manusia bertobat dan percaya pada kuasa kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus yang tersalib bersama para penjahat. Manusia perlu perlu menyesal dan bertobat sambil berseru: Tuhan ingatlah akan daku jika engkau menjadi raja. Atau dengan kata-kata Petrus: Salva nos Domine ferimus! Dan Tuhan menjawab: Jangan takut Aku ada bersamamu juga di sini, hari ini. Manusia tidak perlu menunggu sampai besok untuk bertobat, agar bisa berada bersama Tuhan hari ini juga.

(Pst. Julius Salettia, Pr.)

“Hari ini juga Engkau berada bersama Aku di Firdaus!” (Luk. 23:43)

Marilah Berdoa:

Tuhan ingat dan kasihanilah kami orang berdosa. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini