Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)
Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46.
Iri hati merupakan sifat manusiawi. Sifat ini dipengaruhi oleh realitas yang terjadi di hadapan kita. Rasa kurang bersyukur juga merupakan pencetus dari lahirnya sifat ini. Sifat iri hati tentunya merupakan sifat buruk dari diri manusia. Iri hati dapat melahirkan sikap buruk yang baru, sehingga merusak dan menghancurkan relasi dengan orang lain.
Bacaan hari ini berbicara tentang iri hati. Kitab Kejadian mengisahkan tentang saudara-saudara Yusuf yang berencana jahat terhadap Yusuf dan akhirnya menjual Yusuf. Itu terjadi karena iri hati. Mereka iri hati terhadap Yusuf, karena ia sangat disayangi oleh Israel (Yakub) ayah mereka.
Injil juga menceritakan tema yang sama. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun Anggur. Yesus menjelaskan bahwa para penggarap kebun anggur membunuh para hamba dan juga ahli waris dari tuan yang empunya kebun anggur itu. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh sifat iri hati. Sifat iri hati itu melahirkan keinginan untuk menguasai milik orang lain, sehingga para penggarap itu rela melakukan perbuatan-perbuatan keji untuk mendapatkan tujuan yang mereka inginkan.
Perumpamaan ini secara spesifik ditujukan kepada orang-orang Farisi dan imam-imam kepala. Mereka diibaratkan sebagai penggarap-penggarap. Yesus dilambangkan sebagai ahli waris. Para nabi utusan Allah yakni para hamba. Allah Bapa sebagai tuan yang memiliki kebun anggur. Sementara kebun anggur ialah umat beriman.
Para nabi dan bahkan Yesus sendiri memiliki tujuan yang baik, yakni mewartakan kabar sukacita dan membawa seluruh bangsa Israel kepada keselamatan. Akan tetapi, karena pewartaannya, para nabi dan Yesus mengalami penderitaan bahkan sampai wafat. Karena, iri hati dan takut popularitasnya menjadi turun, maka imam-imam kepala dan orang-orang Farisi berencana untuk membunuh Yesus.
Tuhan Yesus berkata: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Yesus dan Yusuf merupakan batu yang dibuang oleh tukang bangunan. Yesus difitnah dan dihukum mati. Yusuf dijual oleh kakak-kakaknya dan dibawa ke Mesir. Akan tetapi, Yusuf akhirnya menjadi seorang penasihat Firaun dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Yesus yang wafat di salib telah menebus dosa dan membawa manusia kepada keselamatan.
Oleh karena itu, di masa prapaskah ini, marilah kita bersama-sama membaharui kehidupan kita. Kita menghilangkan sifat iri hati terhadap orang lain dan membangun relasi yang baik dengan sesama kita. Marilah kita berubah agar wafat Yesus tidak menjadi sia-sia bagi kita.
(Fr. Fernando Letsoin)
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mat. 21:42b).
Marilah berdoa:
Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.











