Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).
Hos. 6: 1-6; Mzm. 51: 3-4,18-19,20-21b; Luk. 18: 9-14.
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita berjumpa dengan orang-orang yang berlaku sombong dan angkuh hati. Sikap sombong dan angkuh itu terjadi karena manusia ingin membanding-bandingkan diri dan kehidupannya dengan orang lain. Umumnya dalam proses banding-membandingkan itu, yang menjadi tolak ukur ialah harta kekayaan, profesi, atau status yang dimiliki. Orang cenderung meremehkan dan merendahkan mereka yang tidak punya harta kekayaan, profesi yang bagus, atau status yang terhormat di dalam masyarakat. Namun, tindakan seperti ini justru merupakan suatu tindakan yang tidak akan pernah berkenan di hadapan Allah yang empunya segala-galanya.
Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Yesus dengan tegas menegur orang-orang Farisi yang berlaku sombong dan angkuh di hadapan para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka bertindak seakan-akan menjadi yang paling benar hidupnya ketimbang para pemungut cukai dan orang berdosa. Kendati demikian, cara hidup seperti itu malah menjadi persoalan utama dalam pengajaran-pengajaran yang dilakukan oleh Yesus. Tuhan menghendaki agar setiap orang hidup dengan sikap rendah hati dan tidak sombong, sebab dengan demikian mereka akan mendapat keselamatan dan pengampunan dosa di hadapan Allah yang Mahakuasa.
Memang sah-sah saja kalau orang Farisi itu mengakui atau mengklaim perbuatan-perbuatan baiknya. Namun yang menjadi soal ialah dirinya menyalahkan si pemungut cukai sebagai orang yang hidupnya tidak benar di hadapan Allah, serta membanding-bandingkan kehidupan mereka.
Hal serupa pula telah dilakukan oleh bangsa Israel dalam bacaan pertama. Sikap kepura-puraan yang ditunjukkan oleh bangsa Israel itu pada akhirnya mendatangkan murka Allah, sehingga keselamatan yang seharusnya diterima oleh bangsa Israel pun tidak diberikan oleh Allah. Hal ini berarti bahwa Allah menghendaki kesetiaan hati dari umat-Nya dan bukan kata-kata manis yang tidak pernah didukung oleh tindakan nyata.
Itulah sebabnya, Yesus mengajarkan kita untuk hidup seperti si pemungut cukai yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini. Sikap kerendahan hati dan kepasrahan diri yang ditunjukkannya menjadi jalan keselamatan baginya. Allah berkenan mendengarkan doanya dan mengampuni setiap dosa yang telah ia perbuat. Yesus mau agar kita selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, entah dalam suka maupun duka, dan selalu merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama kita.
Marilah kita hidup dengan rendah hati layaknya si pemungut cukai yang berani berkata “Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”, agar kita boleh mendapatkan keselamatan dan pengampunan dosa dari-Nya.
(Fr. Blasius Helyanan)
“Ya Allah kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Luk. 18: 13).
Marilah berdoa :
Tuhan, bimbinglah kami agar selalu bersikap rendah hati. Amin











