Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)
Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47
Sebagian besar masyarakat di dunia pasti menyukai pertunjukkan sulap. Penyajiannya yang membuat penonton terheran-heran menjadi daya tarik dari pertunjukan ini. Lantas karena rasa heran dan terpukau, orang kemudian bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu apa trik rahasia di balik perbuatan-perbuatan ajaib yang memukau itu.
Kita dapat menemukan pelbagai perbuatan-perbuatan ajaib dalam Kitab Suci juga. Perbuatan ajaib yang dikisahkan dalam Kitab Suci itu disebut dengan mukjizat. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa mukjizat itu berasal dari Allah. Melalui mukjizat-mukjizat itu, Allah menyatakan kehadiran, penyelenggaraan, dan kasih-Nya yang besar kepada kita. Allah mengadakan mukjizat agar kita tidak lupa bahwa diri-Nya senantiasa hadir dalam hidup kita. Ia menghendaki agar kita mau mencari dan datang kepada-Nya serta hidup di jalan yang benar. Ia tak mau kita tersesat dan dijauhkan dari keselamatan.
Namun, manusia sering berpaling dari Allah yang sejati dan malah mengarahkan pandangannya, fokusnya kepada allah-allah lain. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengutarakan hal tersebut dengan jelas. Ketika menghadap Allah di gunung Sinai, Musa diberitahu olah Allah bahwa orang-orang Israel telah membuat patung tuangan, anak lembu emas dan menyembahnya. Hal itu membangkitkan murka Allah yang telah dengan tangan kuat dan perbuatan-perbuatan ajaib membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir.
Injil hari ini juga mengisahkan ungkapan kekecewaan dan ejekan Yesus pada orang-orang Yahudi yang masih saja mempertanyakan asal-usul-Nya. Ia kecewa karena mereka masih saja meragukan diri-Nya, padahal Ia telah mengerjakan perbuatan-perbuatan ajaib di depan mata mereka berulang-ulang kali. Semua itu bukan hanya sulap belaka yang memang memukau tapi isinya kosong dan tak mendatangkan keselamatan.
Yesus sendiri tidak memamerkan bahwa dirinya Allah, ia tidak menyebut-nyebut dan mengaku-ngaku bahwa diri-Nya Allah. Tapi kita tahu dan percaya bahwa ia sungguh Allah hanya dengan melihat bagaimana Ia hidup: pola pikir, perkataan, dan perbuatan-Nya sungguh mencerminkan statusnya sebagai Allah. Tidak seperti allah-allah lain yang mengaku diri allah tapi tidak ada bukti, dan cuma omong saja.
Allah telah menyatakan diri-Nya dengan tanda-tanda ajaib itu agar kita mau mengarahkan perhatian dan fokus kita kepada-Nya secara total. Dalam masa tirakat ini, pantaslah kita bertanya pada diri masing-masing: apakah sebagai orang yang menyebut diri Kristiani, kita telah hidup dan mengarahkan fokus kita pada Allah yang sejati? Atau jangan-jangan kita masih salfok (salah fokus) dan menyibukkan diri dengan allah-allah palsu yang mengaburkan pandangan dan pengenalan kita pada Allah sejati.
(Fr. Antonius Braien El)
“… Pekerjaan itu yang juga Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 5:36).
Marilah berdoa:
Tuhan Allah sejati, terangilah pandanganku sehingga aku senantiasa menyadari kehadiran-Mu dalam hidupku dan mengarahkan fokusku hanya pada-Mu. Amin.











