“Pelaku Firman”: Renungan, Rabu 16 Februari 2022

0
1792

Hari Biasa (H)

Yak. 1:19-27; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mrk. 8:22-26.

Mendengar dan melakukan merupakan dua tindakan yang berbeda, namun dalam konteks tertentu bisa sangat berkaitan. Mendengar bisa menjadi suatu sikap, yang kemudian mengarahkan orang untuk bertindak lebih lanjut, yakni dengan melakukan apa yang telah didengar. Bagi banyak orang, mendengar adalah suatu tindakan yang mudah dilaksanakan, namun untuk kemudian dapat melakukan apa yang didengarkan, orang seringkali merasa berat dan kesulitan.

Kutipan surat Yohanes pada hari ini berpesan supaya kita orang yang percaya hendaknya menjadi pelaku firman, dan bukan sekedar pendengar firman. Memang jika kita pahami betul-betul, menjadi pelaku menunjuk pada suatu perbuatan yang lebih besar nilainya dari sekedar pendengar. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa orang yang hanya mendengarkan firman dan tidak melakukannya menipu dirinya sendiri.

Lalu bagaimana sebenarnya tindakan seorang pelaku firman? Injil hari ini menunjukkan contoh sempurna dari seorang pelaku Firman. Yesus yang menyembuhkan orang yang sakit, menjadi contoh yang paling tepat untuk menggambarkan sikap dari seorang pelaku firman. Kita memang tidak diminta untuk menjadi persis seperti Yesus yang menyembuhkan orang dengan mujizat-Nya. Kita tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu.

Untuk menjadi seorang pelaku firman, kita hanya perlu berusaha melakukan kebaikan sesuai dengan kemampuan kita. Membantu, mengunjungi dan mendoakan mereka yang sakit nampaknya menjadi tindakan yang lebih tepat untuk kita lakukan sebagai pelaku firman. Kita pun perlu bertindak seturut perintah Allah dalam firmannya. Meninggalkan segala yang kotor dan jahat, tidak gampang emosi, serta menerima firman Allah, bertekun dalamnya dan melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.

Memang untuk menjadi seorang pelaku firman, kita akan melewati berbagai rintangan. Kita akan menghadapi banyak ujian, dan kita mungkin jatuh dan terluka. Kita memang lemah jika harus melakukan semuanya itu sendirian. Tapi kita perlu sadar bahwa Yesus akan selalu ada untuk kita dan menyertai kita selalu.

Sebab itu kita tidak perlu takut untuk menjadi seorang pelaku firman. Jika kita terluka, kita percaya bahwa Yesus akan menyembuhkan kita, sama seperti Ia menyembuhkan orang buta dalam Injil hari ini. Yesus sang Firman telah rela menjadi manusia dan memberi contoh bagaimana menjadi pelaksana firman Allah. Marilah kita dengan berani berusaha mengikuti teladan-Nya.

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah” (Yak.1:20).

Marilah berdoa:

Tuhan, sertailah dan bimbinglah kami selalu supaya dapat menjadi pelaku firman-Mu yang setia. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini