“Ketidakpercayaan Membawa Maut”: Renungan, Senin 24 Januari 2022

0
1902

Pw. S. Fransiskus dr Sales, Usk.PujG. (P).

2 Sam. 5:1-7,10; Mzm. 89:20,21-22,25-26; Mrk. 3:22-30.

Hidup manusia seringkali dinodai dengan ketidakpercayaan. Hal ini timbul akibat interpretasi yang dangkal melalui akal budi. Karena menganggap diri punya pengetahuan lebih atas sesuatu maka memandang orang lain keliru dan tidak benar. Inilah yang dinamakan dengan kesombongan intelektual.

Dalam kisah Injil hari ini, penginjil Markus menampilkan karakter ahli-ahli Taurat yang menghujat Yesus dengan berkata bahwa Yesus kerasukan Beelzebul dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan. Sudah sejak awal Yesus berkarya, ahli-hali Taurat telah memberi kecaman karena pengajaran dan tindakan Yesus. Mereka tergoncang dengan keberadaan Yesus. Mereka terus mencari cara agar menjatuhkan Yesus. Kadang dalam perjumpaan dengan Yesus di satu kesempatan, dengan kemampuan pengetahuan, mereka selalu memberi pertanyaan untuk mencobai Yesus.

Sekarang ini kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk kaya akan pengetahuan. Mencari pengetahuan sebanyak mungkin untuk memenuhi hasrat intelektual kita. Namun pada saat yang sama kita kadang menjadi tamak dan menyalahi Tuhan. Kita bisa saja terpengaruh untuk tidak percaya akan Tuhan, Kita bisa saja terperangkap dalam kepercayaan pada yang nampak ketimbang yang tidak tampak. Oleh sebab itu, iman kita goyah.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar Yesus mengecam orang seperti demikian. “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal”. Kita pun pasti tak ingin untuk mengalami hal ini. Tetapi dalam tindak-tanduk hidup kita, kadang bisa menghujat Roh Kudus. Hal sederhana seperti doa kita yang tidak terkabulkan maka kita menyalahi Tuhan, dan bahkan menyangkal keberadaan Tuhan dalam hidup. Akibatnya, kita tidak menyadari bahwa Roh Kudus-lah yang telah berkarya dalam hidup kita. Roh Kudus memberi jalan untuk kita agar sampai kepada tujuan kita yang benar, yakni Tuhan sendiri.

Maka melalui bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk rendah hati di hadapan Tuhan. Gunakan akal budi dan hati kita untuk mengenal penyelenggaraan Roh Kudus dalam diri kita. Jangan biarkan kita mudah dipengaruhi oleh bujukan iblis untuk tidak percaya akan Tuhan. Tuhan tidak diam, tetapi melalui Roh Kudus, Dia berkarya dalam hidup kita, menghantar kita ke arah yang benar.

(Fr. Domy Samponu)

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk. 3:29).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami anak-anak yang berbakti dan berpengertian luhur. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini