“Pemimpin yang Ideal”: Renungan, Senin 13 September 2021

0
2112

Pw S. Yohanes Krisostomus, UskPujG (P)

1Tim. 2:1-8; Mzm. 28:2,7,8-9; Luk. 7:1-10

Menjadi pemimpin, atau pemegang kedudukan merupakan hal yang sangat diingini oleh banyak orang. Tidak sedikit orang yang sampai menghalalkan segala cara supaya bisa meraih kedudukan dan jabatan. Banyak orang memandang kedudukan atau jabatan sebagai pendongkrak status sosial. Mereka yang memegang jabatan merasa sebagai orang dengan status sosial yang tinggi. Karena anggapan mereka yang demikian, mereka berlaku sombong, tidak adil dan semena-mena terlebih kepada orang lain yang berada di bawah mereka.

Bukan demikian yang diharapkan oleh Allah dari pribadi seorang pemimpin. Dalam Injil hari ini, Yesus memuji seorang perwira yang bersikap rendah hati. Perwira itu menunjukkan iman dan kesadaran dirinya yang tidak layak untuk ditemui oleh Yesus. Ketika seorang hambanya sakit, ia dengan penuh kepercayaan dan iman menyuruh utusan untuk pergi menemui Yesus dan meminta supaya hambanya itu disembuhkan. Namun ketika Yesus hendak pergi ke rumahnya ia berpesan lewat sahabat-sahabatnya, supaya Yesus tidak usah pergi kepadanya karena ia merasa tidak layak menerima kedatangan Yesus.

Sikap perwira yang rendah hati ini dipuji oleh Yesus. Meskipun berkuasa, perwira itu dengan penuh iman menyatakan ketidaklayakannya untuk menerima kunjungan Yesus. Yesus pun kagum karena menurut-Nya, perwira itu menunjukkan iman yang besar akan Allah. Pemimpin yang seperti inilah yang berkenan di hadapan Allah. Dan atas pemimpin seperti inilah, orang harus bersyukur kepada Allah seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timotius. Menurutnya, ucapan syukur atas pemimpin yang demikian adalah hal yang berkenan kepada Allah.

Di dunia dewasa ini, jarang sekali ditemui pemimpin yang demikian. Mungkin di antara ratusan orang pemimpin hanya beberapa orang yang seperti demikian. Sementara itu, banyak yang hanya kelihatan baik di luar sementara di dalamnya penuh dengan kebusukan. Banyak pemimpin yang malah menjadi penipu. Saat kampanye menebar janji manis kepada masyarakat, tapi saat menjadi pemimpin malah menjadi tamak, rakus dan mementingkan diri sendiri, bahkan sampai melakukan korupsi.

Hari ini Gereja Universal memperingati Santo Yohanes Krisostomus. Ia adalah contoh pemimpin yang berkenan kepada Allah dan umatnya. Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk menjadi pemimpin yang berlaku baik dan taat akan hukum, baik hukum dunia maupun hukum Allah. Marilah kita juga berdoa bagi para pemimpin, semoga mereka dapat terus mengarahkan diri kepada kekudusan dan iman akan Allah.

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk.7:6b).

Marilah berdoa:

Tuhan, anugerahilah pemimpin kami kebijaksanaan dalam memimpin kami semua. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini