“Panggilan Tuhan”: Renungan, Kamis 23 September 2021

0
1556

PW S. Padre Pio dr Pietrelcina, Im (P)

BcE Hag. 1:1-8;Mzr.149:1-2,3-4,5-6a,9b;Luk.9:7-9

Hari ini Gereja Katolik memperingati Padre Pio, orang yang memperoleh berkat khusus dari Allah, yakni ‘Stigmata’. Sebagai Imam, Padre Pio memberikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, Gereja, dan sesama manusia. Dia terpanggil untuk memberikan kasih pada zamannya dengan menjadi seorang imam. Bahkan terang kasihnya bernyala sampai sekarang. Sebagai orang beriman Kristiani yang memiliki panggilan hidup masing-masing, tak salah bila harus meneladani hidup dan karyanya.

Bacaan hari ini menampilkan Herodes yang tidak percaya bahwa ada orang yang bisa melakukan hal luar biasa. Bacaan pertama menggambarkan bangsa Israel yang mulai melupakan panggilan mereka. Mereka lebih mementingkan kesibukan mereka daripada meluhurkan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan memanggil dan mengingatkan kembali bangsa Israel akan panggilan mereka yang sesungguhnya.

Herodes merasa terpanggil untuk bertemu tapi bukan karena sebuah kerinduan melainkan untuk memenuhi keingintahuan melihat berbagai mukjizat Yesus. Sedangkan bangsa Israel mulai melupakan panggilan mereka seteleh mereka menerima berkat dari Tuhan. Sikap mereka sama dengan orang pada zaman ini. Banyak yang terpanggil untuk bertemu Yesus, dengan berbagai alasan yang dangkal atau pula ada yang sedang terpanggil namun kemudian melupakan-Nya.

Panggilan hidup setiap orang berbeda-beda, akan tetapi satu hal yang sama adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan, entah sebagai seorang imam, suami-istri, orangtua dan anak-anak. Padre Pio sudah memilih salah satunya dan memperjuangkan panggilannya dalam kekudusan.

Sadarlah bahwa sesungguhnya kehidupan, materi, dan talenta yang saat ini dimiliki berasal dari Tuhan. Jangan sampai melupakan Dia. Seharusnya orang beriman memaksimalkan berkat Tuhan sekreatif mungkin demi memuliakan Tuhan, lewat tindakan-tindakan yang terarah pada kebajikan sesuai dengan panggilan hidupnya. Menanggapi panggilan Tuhan berarti turut mempertanggungjawaban panggilan itu dalam cara yang seharusnya seperti seorang Padre Pio, yaitu dalam kekudusan dan pemberian dirinya bagi Tuhan dan sesama.

Menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan adalah langkah awal yang harus dilakukan. Yakinlah bahwa panggilan Tuhan baik adanya. Panggilan Tuhan adalah sebuah rencana-Nya dimana setiap orang beriman ambil bagian di dalamnya. Menanggapi berarti menjawab panggialn-Nya dan bersedia berkata ya atas segala tugas dan konsekuensi panggilan Tuhan. Panggilan adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Dia memberikan panggilan-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya.

(Fr. Fidelis Kumarurung)

“…maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman Tuhan” (Hag. 1:8).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga saya bisa menjalani panggilan hidup seturut dengan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini