Hari Biasa Pekan VI Paskah
Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a, 9b; Yoh. 15:26-16:4a
Seorang pemuda hendak pergi melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi karena telah memperoleh gelar dan telah mempersiapkan diri sejak awal. Ketika berada dalam ruang wawancara dengan calon bosnya, dia merasa sangat gugup meski begitu banyak ilmu yang dimiliki, dia sangat minim pengalaman. Setelah ditanya apa yang dapat dia berikan bagi perusahaan itu jika dia menjadi karyawan di situ, dia pun teringat akan pesan kedua orangtuanya yang hanyalah petani: bekerjalah dengan kesetiaan yaitu disiplin dan jujur. Mendengar ucapan bibir anak muda ini, bosnya langsung menerima dia melewati masa uji coba di situ.
Kesetiaan dalam segala bidang kehidupan adalah sesuatu yang mahal dan sangat berharga. Sebab sikap setia menentukan nasib baik itu keluarga, pekerjaan bahkan panggilan.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan kesetiaan murid Kristus. Kristus mengatakan soal konsekuensi sebagai murid-Nya, karena menjadi murid Kristus berarti harus siap memberi kesaksian tentang Kristus kepada semua makhluk, di manapun dan kapanpun. Sehingga menjadi murid Kristus itu bukanlah hal yang mudah. Maka benarlah yang disabdakan Tuhan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku”. Namun dari segala konsekuensi ini Yesus sendiri telah menjanjikan Roh Penghibur yang adalah Roh kebenaran dari Bapa untuk menuntun mereka yang dengan setia mengikuti Dia.
Bacaan pertama mengisahkan bahwa para rasul pun dengan setia menjalankan pewartaan Injil. Kesetiaan yang ditunjukkan oleh para rasul terlihat dari perjuangan mereka untuk pergi ke mana saja demi mewartakan Kristus yang bangkit serta meneguhkan iman para jemaat yang sudah tersebar. Kesetiaan akan panggilan ini sebenarnya didasari oleh kesetiaan mereka kepada Kristus, Sang Guru dan Tuhan.
Kesetiaan yang sejati adalah kesediaan manusia untuk membuka diri kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan. Umat yang beriman kepada Kristus seharusnya memahami kesetiaan yang mendasari semua kesetiaan. Kadang orang kehilangan arti kesetiaan karena dia kehilangan cinta akan Tuhan dan sesama. Tak ada orang yang dapat mengatakan dia setia tanpa lebih dahulu mengasihi. Kristus telah mencintai dan mengorbankan diri-Nya itulah teladan kesetiaan sejati bagi manusia.
(Fr. Jacky Mononimbar)
“Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama Aku” (Yoh. 15:27).
Marilah Berdoa :
Tuhan, ajarilah kami kesetiaan dan pengurbanan-Mu. Amin.











