Hari Minggu Paskah VI (P).
Kis 10:25-26,34-35,44-48; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 1Yoh. 4:7-10; Yoh 15:9-17.
Dalam sejarah bangsa Indonesia, begitu banyak pahlawan yang gugur di medan perang. Mereka adalah orang-orang yang dengan gagah berani memperjuangkan kemanusiaan dan kemerdekaan bangsa. Jika bertanya, kekuatan apa yang mendorong para pahlawan sehingga rela mengorbankan nyawa mereka? Jawabannya: Cinta! Cinta para pahlawan akan kemanusiaan dan kemerdekaan telah mendorong mereka untuk berkorban. Hal ini sekiranya sejalan dengan sabda Tuhan “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Ketika akan meninggalkan murid-murid di dunia, Yesus memberikan wasiat terakhir-Nya untuk dihidupi oleh para pengikut-Nya di dunia. Itu adalah “Perintah untuk Saling Mengasihi” . Seperti seorang ibu dan ayah yang memberikan sesuatu paling berharga kepada anak-anaknya, maka warisan terindah yang ditinggalkan oleh Yesus adalah “cinta yang meluap”. Cinta adalah segala-galanya bagi pengikut Kristus: itulah kesibukan utama, komitmen terpenting, resep utama kehidupan dan tanpa cinta maka hidup seorang pengikut Kristus kemalangan.
Salah satu wujud dari cinta yang meluap adalah penerimaan orang lain sebagaimana adanya. Orang yang menghayati cinta akan memperlakukan orang lain sesuai dengan martabatnya sebagai citra Allah dan karena itu akan menerima keadaan orang lain dalam kondisi apapun. Kalau cinta itu didasarkan pada pemahaman yang mendalam akan martabat manusia, maka cinta itu tidak mungkin membeda-bedakan, sama seperti “Allah yang tidak membeda-bedakan orang, asal orang itu takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran” (Kis. 10:34-35).
Orang beriman diajak untuk menjadi pahlawan cinta kasih dengan memberikan perhatian dan simpati di tengah dunia yang semakin tidak adil ini. “Perintah saling mengasihi” adalah warisan terbaik yang telah Tuhan beri. Warisan terwujud dalam menerima orang apa adanya, mendoakan orang lain, memberi uluran tangan seperti yang dilakukan oleh Kornelius, dan mengekang diri. Cinta itu memberi, dan yang diberikan adalah diri sendiri. Berilah, maka Roh akan tercurah melimpah ke dalam diri sehingga menyala-nyala membakari seluruh dunia dengan kebaikan.
(Fr. Berly Dianomo)
“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Marilah Berdoa :
Tuhan, semoga cinta kami terus meluap untuk kebaikan sesama. Amin.











