“Cinta Dalam Seruan Pertobatan”: Renungan, Jumat 23 April 2021

0
1789

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.

Cinta adalah sebuah kata yang sering dipahami dan dihayati secara berbeda. Perbedaan penghayatan dapat diukur melalui sejauh mana pemahaman seseorang akan cinta itu sendiri. Konsekuensinya, kita menemukan banyak versi pengartian kata cinta sehingga sangatlah sukar untuk bisa sampai pada definisi akhir. Mengenai  cinta, seorang filsuf bernama  Robert Spaeman berusaha memahami cinta dalam kaitannya dengan kebaikan hati. Cinta kebaikan hati dipahami sebagai cinta yang selalu terarah kepada orang lain. Dalam kata lain, kebaikan hati menjadi penggerak untuk mencintai. Karena itu, cinta bukan hanya sekedar ungkapan perasaan atau dorongan tertentu melainkan ungkapan kebaikan hati. Cinta kebaikan hati tidak dibatasi oleh batasan tertentu yang memungkinkan diriku mencintai demi diriku sendiri tetapi bergerak keluar dari dalam diri kepada orang lain.

Hari ini melalui kedua bacaan, Allah menunjukkan bagaimana kedalaman cinta-Nya kepada manusia. Kita tentu tidak bisa menyelami secara total kedalaman cinta Allah. Tetapi kita dapat memahami cinta Allah dalam sudut pandang cinta kebaikan hati. Cinta Allah yang besar bagi manusia menjelaskan mengapa Allah memanggil manusia kembali kepada-Nya dalam seruan pertobatan. Ungkapan Yesus yang menyatakan “sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” merupakan sebuah ungkapan cinta yang sangat mendalam. Seruan ini mengarah pada totalitas cinta Allah kepada umat manusia. Karena cinta, Allah memanggil umat-Nya untuk bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Bacaan pertama memperlihatkan Saulus yang dipanggil Tuhan untuk kembali ke jalan yang dikehendaki-Nya. Pertobatan menjadi pintu bagi kita untuk menanggapi ungkapan cinta Allah. Pertobatan menjadi jalan untuk mengungkapkan bahwa kita juga mencintai Allah. Dalam ajaran Yesus, keselamatan adalah tujuan utama. Apa itu keselamatan? Keselamatan adalah keadaan berdamainya manusia dengan Allah, dan ini bisa dicapai ketika manusia mencintai Allah dan bertobat.

Karena itu di masa Paskah ini menjadi kesempatan terbaik bagi kita untuk kembali merenungkan betapa Allah mencintai kita. Masa Paskah menjadi kesempatan untuk merefleksikan apakah kita juga mencintai Allah. Tentu kita tidak hanya sampai pada proses merenungkan tetapi memerlukan tindakan nyata dalam menyikapi panggilan Tuhan untuk kembali kepada jalannya sebagai tanda bahwa kita juga mencintai Allah dengan bertobat dan kembali kepada jalan-Nya.

(Fr. Alosius Gonsaga No)

 “Tubuh-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” (Yoh. 6:55).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarkan aku untuk mencintai-Mu dan tuntunlah aku untuk kembali kepada jalan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini